UI dan Tsinghua Bikin Prototipe Vaksin Dengue mRNA Pertama di Dunia

Universitas Indonesia bersama Tsinghua University mengembangkan prototipe vaksin dengue berbasis mRNA yang disebut sebagai yang pertama di dunia. Prototipe ini hadir di tengah tingginya ancaman demam berdarah dengue yang masih membebani Indonesia.

Informasi yang dibagikan UI melalui akun Instagram resminya pada Senin, 13/7/2026, menyebut vaksin itu dirancang menggunakan strain virus dengue yang beredar di Indonesia. Pendekatannya tetravalen, sehingga ditujukan untuk melindungi dari empat serotipe virus dengue sekaligus.

Mengandalkan mRNA dan bantuan AI

Pengembangan vaksin ini dipimpin oleh Infectious Disease and Immunology Research Center (IDIRC) dan Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI) FK UI. Tim riset memakai gen preM-E dari strain virus dengue yang beredar di Indonesia sebagai dasar desain kandidat vaksin.

Dalam prosesnya, tim juga memanfaatkan artificial intelligence (AI) untuk memprediksi kemungkinan mutasi virus di masa depan. Cara ini dipakai agar desain vaksin bisa terus disempurnakan mengikuti perubahan karakteristik virus dengue.

AspekDetail
Platform vaksinmRNA
Target perlindungan4 serotipe virus dengue
Basis desainStrain dengue yang beredar di Indonesia
PendekatanTetravalen

Riset berlangsung sekitar 1,5 tahun

Penelitian ini dikerjakan selama sekitar satu setengah tahun. Tahapannya dimulai dari pengumpulan spesimen virus dengue, analisis epidemiologi molekuler, perancangan kandidat vaksin, hingga pengembangan konstruksi mRNA.

Rangkaian berikutnya mencakup formulasi lipid nanoparticle (LNP), pengujian antigenisitas, pengujian imunogenisitas, dan studi praklinis yang dilakukan di Indonesia serta Tiongkok. Tahap yang panjang ini menunjukkan bahwa kandidat vaksin tidak hanya didesain, tetapi juga diuji secara bertahap sebelum dikembangkan lebih lanjut.

Dalam unggahan yang dikutip www.kompas.com, UI menyoroti bahwa demam berdarah masih menjadi ancaman kesehatan di Indonesia. Banyak pasien disebut datang ke fasilitas kesehatan setelah tiga hari demam, padahal hari ketiga hingga kelima merupakan fase kritis yang berisiko menyebabkan syok hingga kematian.

Harapan untuk kemandirian vaksin Indonesia

UI menempatkan inovasi ini sebagai langkah penting menuju kemandirian Indonesia dalam pengembangan vaksin, teknologi biomedis, dan ketahanan kesehatan nasional. Riset ini juga diharapkan memperkuat kapasitas dalam negeri agar mampu menghasilkan solusi kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia.

Kerja sama UI dan Tsinghua University menjadi contoh kolaborasi riset internasional yang fokus pada masalah kesehatan nyata di masyarakat. Jika pengembangannya berlanjut dengan baik, Indonesia berpeluang memiliki pijakan yang lebih kuat untuk menghadapi dengue secara ilmiah dan berkelanjutan.

Kehadiran prototipe vaksin dengue berbasis mRNA ini belum menjadi jawaban akhir, tetapi membuka ruang baru bagi upaya pencegahan demam berdarah. Di tengah beban penyakit yang masih tinggi, riset seperti ini menjadi salah satu penanda bahwa pengembangan solusi kesehatan dari dalam negeri mulai bergerak ke arah yang lebih serius.

Terkait