Di saat banyak siswa mengejar prestasi dengan latihan berat, Nathan Allan justru memilih pendekatan yang lebih ringan. Siswa SMA Kanisius Jakarta berusia 17 tahun itu memposisikan belajar sebagai hobi, dan cara itu membawanya dua kali lolos ke ajang International Olympiad in Informatics (IOI).
Nathan sudah pernah tampil di IOI 2025 di Bolivia dan meraih medali perunggu. Tahun ini, ia kembali mewakili Indonesia di IOI 2026 yang akan berlangsung di Uzbekistan pada Agustus mendatang.
“Saya tahun ini mewakili International Olympiad in Informatics tahun 2026 di Uzbekistan tahun ini, dan ini adalah kedua kalinya saya mengikuti IOI,” kata Nathan kepada Kompas.com, Selasa (15/7/2026).
Perjalanan seleksi yang tidak singkat
Untuk sampai ke tingkat internasional, Nathan harus melewati rangkaian seleksi yang panjang. Jalurnya dimulai dari Olimpiade Sains Nasional atau OSN, yang dimulai dari tingkat sekolah, lalu kabupaten atau kota, provinsi, dan nasional.
Setelah itu, peraih medali OSN Nasional kembali diseleksi di Pelatihan Nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas). Dari tahap ini, hanya empat peserta teratas yang berhak masuk ke IOI.
Nathan menyebut tahap itu sebagai bagian tersulit, karena persaingan untuk masuk empat besar Pelatnas sangat ketat. “Kalau saingan terberatnya memang bisa masuk ke IOI-nya, berarti kan harus ada di peringkat 4 teratas di Pelatnas. Jadi itu juga lumayan sulit,” ujarnya.
Latihan singkat, tapi konsisten
Dalam mempersiapkan diri, Nathan mengandalkan belajar mandiri yang juga didorong oleh sekolahnya. Ia memilih latihan soal dengan durasi pendek, tetapi dilakukan rutin setiap hari.
“Saya sih latihan (soal) itu menganggap sebagai hobi ya, bukan sebagai kewajiban. Jadi memang kalau saya ada waktu luang, saya biasanya sempetin buat ngerjain 1-2 soal. Jadi memang dalam sekali latihan baseball lama, cuman tiap hari saya latihan aja kayak setengah jam, satu jam,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa konsistensi lebih penting daripada durasi latihan yang panjang. Menurut Nathan, kebiasaan itu membuat proses belajar terasa lebih ringan dan tetap bisa dijalani di sela aktivitas lain.
Rangkuman tahapan menuju IOI
| Tahap | Keterangan | Keterangan Lanjutan |
|---|---|---|
| OSN | Tingkat sekolah, kabupaten atau kota, provinsi, nasional | Jalur awal menuju seleksi nasional |
| Pelatnas Puspresnas | Seleksi lanjutan bagi peraih medali OSN Nasional | Empat teratas berhak masuk IOI |
| IOI | Kompetisi internasional informatika | Nathan tampil di Bolivia 2025 dan Uzbekistan 2026 |
Stuck saat latihan, lalu cari masukan
Meski sudah terbiasa berlatih, Nathan mengakui ada masa ketika kemampuan terasa tidak naik-naik. Kondisi itu membuatnya merasa stuck meski telah mengerjakan banyak soal.
Untuk keluar dari situasi tersebut, ia memilih berdiskusi dengan teman dan pembina. Dari sana, ia bisa mengetahui bagian mana yang masih lemah dan soal seperti apa yang perlu lebih banyak dikerjakan.
“Tantangan terberat saya adalah saat sudah banyak latihan itu kadang merasa stuck gitu. Merasa skill-nya nggak bertambah-tambah,” kata Nathan.
“Dan itu makanya menurut saya yang paling berguna adalah bertanya kepada teman-teman lebih baik meningkatkannya di bidang mana, lebih baik meningkatkan-nya di soal-soal yang tipe apa, dan juga menanyakan soal-soal yang menurut mereka itu bagus. Jadi berlatih pada skill yang kita masih lemah,” tambahnya.
Belajar dari komunitas dan lawan tangguh
Selama mengikuti IOI, Nathan berhadapan dengan peserta dari negara-negara yang dikenal kuat di bidang informatika, seperti China, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan. Situasi itu membuat persiapan tim dan kebiasaan belajar bersama menjadi semakin penting.
Ia juga menyebut banyak terbantu oleh bank soal seperti Code Forces serta soal-soal baru dari pembina di Pelatnas dan Puspresnas. Selain itu, ia menilai punya teman belajar dan komunitas yang aktif adalah salah satu kunci untuk terus berkembang.
“Banyak berlatih juga ya. Jadi biasanya yang saya lakukan adalah habis ngerjain soal, kalau bingung diskusi bareng teman, diskusi bareng pembinanya. Jadi punya teman belajar dan juga suatu komunitas itu penting,” tutupnya.
Dengan pendekatan yang santai namun disiplin, Nathan menunjukkan bahwa prestasi besar tidak selalu lahir dari latihan yang panjang setiap hari. Kadang, yang paling menentukan justru kebiasaan kecil yang dijaga terus-menerus.
