Korea Utara kembali menunjukkan aksi militer dengan meluncurkan rudal balistik ke perairan Laut Timur pada Minggu, 4 Januari 2026. Informasi ini dikonfirmasi oleh Kepala Staf Gabungan Korea Selatan dan Kementerian Pertahanan Jepang yang mendeteksi peluncuran rudal yang belum diidentifikasi tersebut.
Peluncuran ini terjadi tidak lama setelah Amerika Serikat melakukan serangan militer ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro. Aksi Korea Utara pun dianggap sebagai respon atas dinamika tersebut serta ketegangan terkait pengembangan kapal selam nuklir Korea Selatan.
Instruksi Kim Jong-un untuk Meningkatkan Produksi Senjata
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, baru saja memerintahkan penggandaan produksi senjata pemandu taktis strategis di sebuah kunjungan kerjanya ke pabrik amunisi besar. Langkah ini merupakan bagian dari persiapan menjelang Kongres Sembilan Partai Buruh, di mana kebijakan nasional penting akan disusun.
Dalam beberapa pekan terakhir, Kim juga melakukan inspeksi di berbagai fasilitas militer, termasuk pabrik senjata dan kapal selam bertenaga nuklir. Aktivitas tersebut menunjukkan fokus strategis Pyongyang dalam memperkuat kemampuan militer negara itu.
Dampak Serangan AS di Venezuela dan Isu Kapal Selam Nuklir Korsel
Serangan AS di Venezuela, yang berbuah dengan penangkapan Presiden Maduro, memicu reaksi keras Korea Utara. Selain itu, keputusan mantan Presiden AS Donald Trump memberi izin bagi Korea Selatan untuk mengembangkan kapal selam nuklir juga memicu ketegangan baru.
Korea Utara melihat perkembangan ini sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas regional dan keamanan nasionalnya. Oleh sebab itu, uji coba rudal ini dianggap sebagai sinyal peringatan sekaligus pamer kekuatan militer.
Tujuan Strategis Uji Coba Rudal Korea Utara
Beberapa analis menilai bahwa rangkaian uji coba rudal ini mengarah pada tujuan strategis sebagai berikut:
- Meningkatkan presisi serangan jarak jauh guna menantang sistem pertahanan Amerika Serikat dan Korea Selatan.
- Melakukan pengujian senjata secara menyeluruh sebelum kemungkinan ekspor ke negara sekutu seperti Rusia.
Kim Jong-un baru saja menyampaikan pesan tahun baru yang memuji aliansi antara Korea Utara dan Rusia sebagai "tak terkalahkan," menegaskan hubungan strategis kedua negara di tengah ketegangan global.
Aktivitas militer Pyongyang ini merupakan bagian dari upaya memperkuat posisi negosiasi dan mempertahankan pengaruh di kawasan. Para pengamat internasional memantau perkembangan ini dengan seksama karena berpotensi memicu eskalasi ketegangan di Asia Timur dan sekitarnya.
Baca selengkapnya di: www.suara.com