Amerika Serikat akan melakukan latihan militer udara selama beberapa hari di wilayah Timur Tengah. Latihan ini bertujuan menguji kemampuan pasukan udara AS dalam menyebar, beroperasi, dan menjalankan misi tempur di kondisi sulit dengan aman dan tepat bersama mitra regional.
Komandan Komponen Udara Pasukan Gabungan wilayah Tengah, Letnan Jenderal Derek France, menyatakan latihan ini penting untuk memperkuat kesiapan militer AS di kawasan. Pengumuman latihan ini muncul di tengah ketegangan yang meningkat antara AS dengan Iran.
Presiden AS Trump sebelumnya mengancam tindakan militer terhadap Iran dan menyatakan armada perang tengah bergerak menuju Iran. Ia memperingatkan bahwa serangan berikutnya akan lebih parah dibandingkan serangan AS tahun lalu terhadap fasilitas nuklir Iran.
Kelompok kapal induk USS Abraham Lincoln sudah tiba di kawasan sebagai bagian dari langkah antisipasi. Meski demikian, keputusan terkait tindakan militer resmi belum dibuat, dan pemerintahan AS masih mengkaji opsi yang tersedia.
Ketegangan memuncak berkat tindakan keras rezim Iran terhadap demonstran anti-pemerintah. Laporan kelompok HAM berbasis di AS menyebut sedikitnya 5.800 nyawa demonstran telah hilang, dengan ribuan korban tambahan masih dalam peninjauan. Iran sendiri mengakui terjadinya kematian massal dalam aksi penumpasan ini.
Trump menegaskan sikap menentang kekerasan terhadap demonstran dan mengancam akan turun tangan jika Iran tidak mengubah kebijakannya. Namun, pekan lalu Trump juga menyatakan Iran menunjukkan keinginan untuk berdialog, membuka peluang diplomasi.
Seorang pejabat AS menyatakan pemerintah terbuka untuk berdiskusi dengan Iran jika syarat-syarat jelas disepakati. Sementara itu, Iran meningkatkan retorika keras dan memperingatkan bahwa setiap agresi AS akan mendapat balasan yang dapat mengguncang stabilitas Timur Tengah.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan kesiapan membalas jika diserang dan menolak pengaruh kapal perang AS di wilayahnya. Iran juga terus meningkatkan kapabilitas militer dan operasi pengawasan wilayahnya.
Di ibu kota Teheran, poster propaganda raksasa memperlihatkan ancaman penghancuran kapal induk AS dengan pesan “If you sow the wind, you will reap the whirlwind.” Poster lain menampilkan gambar tawanan marinir AS dari insiden tahun 2016.
Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), latihan militer akan dilakukan dengan persetujuan negara tuan rumah dan koordinasi ketat dengan otoritas penerbangan sipil dan militer guna memastikan aspek keamanan dan kedaulatan wilayah tetap dihormati.
Beberapa negara di kawasan, seperti Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab, menyatakan tidak mengizinkan wilayah udara mereka digunakan untuk aksi militer terhadap Iran. Uni Emirat Arab juga menegaskan tidak memberikan dukungan logistik untuk operasi semacam itu.
Strategi AS memperkuat kehadiran militer di Timur Tengah lewat latihan pasukan udara ini dipandang sebagai langkah preventif dalam meredam ketegangan yang berlangsung. Pelibatan mitra lokal dalam latihan ini juga menunjukkan usaha membangun respons bersama menghadapi potensi konflik regional yang lebih luas.
