Sarah Mullally resmi dikukuhkan sebagai uskup agung Canterbury dan menjadi perempuan pertama yang memimpin Church of England. Upacara pengukuhan berlangsung di Katedral St. Paul, London, yang menandai tonggak sejarah baru bagi gereja tersebut.
Berusia 63 tahun, Mullally sebelumnya menjabat sebagai perwira tertinggi perawat di Inggris dan uskup London sejak 2018. Ia mengaku mendapat dukungan luas dari masyarakat, baik melalui surat maupun interaksi langsung di jalanan.
Peran dan Tantangan Sarah Mullally
Mullally bertekad untuk mengangkat isu misogini yang masih berkembang, baik dalam lingkungan sekuler maupun di gereja. Ia menyatakan pernah mengalami diskriminasi gender dan berjanji menciptakan lingkungan yang aman dan layak bagi semua orang.
Dalam wawancara dengan BBC, Mullally menegaskan pentingnya suara dari tokoh terdepan agar mereka yang kurang memiliki status dan kekuatan juga terdorong untuk berbicara. Komitmen ini menjadi bagian dari visinya dalam memimpin gereja yang berusaha meningkatkan kesejahteraan seluruh anggota.
Latar Belakang dan Kontroversi
Pengangkatan Mullally datang setelah masa jabatan penuh kontroversi yang dialami Justin Welby, uskup agung sebelumnya. Welby mengundurkan diri karena tidak mampu menghentikan tindakan seorang pelaku pelecehan yang terkait gereja. Ini merupakan pertama kalinya dalam seribu tahun ada pengunduran diri uskup agung akibat skandal.
Meski banyak yang menyambut baik, tidak semua pihak merasa nyaman dengan kepemimpinan Mullally. Beberapa tokoh senior dari gereja-gereja Afrika menyuarakan ketidaksetujuan. Mereka berpendapat kepala gereja seharusnya laki-laki, sesuai keyakinan mayoritas umat Anglikan.
Tanggapan terhadap Kritik dan Isu Safeguarding
Uskup Agung Nigeria, Henry Ndukuba, menegaskan bahwa mayoritas Anglikan tidak bisa menerima kepemimpinan perempuan dalam jabatan episcopate. Begitu pula dengan Uskup Agung Rwanda, Laurent Mbanda, yang menyatakan keyakinan akan penunjukan laki-laki berdasarkan kitab suci.
Mullally menyadari adanya keprihatinan tersebut dan berkomitmen membuka ruang dialog untuk membangun kemitraan dengan pihak-pihak yang merasa keberatan. Ia juga menghadapi tuduhan terkait perlindungan pelaku pelecehan saat menjabat uskup London.
Gereja secara resmi menolak pengaduan yang menyatakan Mullally melindungi pelaku dengan berbagi email yang memuat tuduhan pelecehan. Namun, Michell Burns, mantan penasihat safeguarding di London, menuduh bahwa gereja lebih mementingkan reputasi daripada korban pelecehan.
Agenda dan Harapan di Masa Depan
Sebagai uskup agung Canterbury, Mullally akan memimpin Church of England melalui masa pemulihan dan reformasi. Ia berfokus pada menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan terbuka bagi semua pendukungnya, termasuk mereka yang selama ini kurang mendapat perhatian dalam isu gender dan perlindungan.
Mullally juga diharapkan mampu mengatasi ketegangan di dalam dan luar gereja, terutama terkait pandangan berbeda soal kepemimpinan perempuan dan isu-isu sosial seperti pernikahan sesama jenis. Komitmennya yang terbuka terhadap perbedaan menjadi modal penting bagi perjalanan gereja ke depan.
