Upaya intensif sedang dilakukan untuk mengatasi isu wilayah Donetsk dalam pembicaraan damai yang dimediasi Amerika Serikat guna mengakhiri perang Rusia-Ukraina. Sekretaris Negara AS Marco Rubio menyebutkan bahwa masalah ini merupakan salah satu kendala utama yang sangat sulit diselesaikan.
Presiden Vladimir Putin menegaskan bahwa Rusia bertekad mengambil alih seluruh wilayah Donbas, termasuk Donetsk yang sudah dikuasai 90 persen oleh pasukan Rusia, melalui kekuatan jika Ukraina tidak menyerahkan wilayah tersebut. Ukraina, sebaliknya, menolak memberikan wilayah yang belum berhasil direbut Rusia tersebut dalam kesepakatan damai. Dukungan publik di Ukraina juga menunjukkan penolakan kuat terhadap konsesi wilayah.
Ketegangan dan Perbedaan di Donetsk
Permintaan Putin agar Ukraina menyerahkan sekitar 20 persen wilayah Donetsk yang masih dikuasai Kiev—seluas sekitar 5.000 km²—menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi. Sebagian besar negara mengakui Donetsk sebagai bagian dari Ukraina, meski Rusia mengklaim wilayah tersebut sebagai “tanah bersejarah” mereka.
Rubio menyampaikan, meskipun ada kesenjangan besar, diskusi telah menyempit hanya pada satu isu utama, yaitu status Donetsk, yang diprediksi akan menjadi perdebatan paling sulit di antara negosiator. Pernyataan ini disampaikan dalam sesi dengar pendapat di Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS.
Peran Amerika Serikat dalam Proses Perdamaian
Mengenai partisipasi AS dalam pembicaraan berikutnya, Rubio mengindikasikan kemungkinan keterlibatan resmi diplomat AS, meski utusan utama pemerintahan Trump seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner tidak akan ikut serta lagi. Pembicaraan sebelumnya, yang berlangsung di Abu Dhabi, menghadirkan pertemuan langsung antara pejabat Rusia dan Ukraina, namun belum menghasilkan kesepakatan.
Diskusi lanjutan diperkirakan akan berlangsung kembali di Abu Dhabi dengan harapan membuka jalur dialog lebih lanjut, meski tekanan dari pemerintahan Trump agar Ukraina bersedia melakukan konsesi semakin meningkat. Tujuannya adalah mengakhiri konflik paling berdarah di Eropa sejak Perang Dunia II yang dipicu invasi skala penuh Rusia ke Ukraina.
Jaminan Keamanan untuk Ukraina
Rubio juga menanggapi soal jaminan keamanan yang sedang dibahas antara AS dan Ukraina. Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat telah siap menawarkan jaminan tersebut, namun langkah ini sangat bergantung pada perkembangan dinamika dengan Rusia. Lebih jauh, jaminan keamanan baru akan berlaku setelah konflik benar-benar berakhir.
Laporan Financial Times menyebutkan bahwa AS mendorong Ukraina untuk menandatangani perjanjian damai dengan Rusia sebagai prasyarat untuk mendapatkan jaminan keamanan dari Washington. Hal ini menambah kompleksitas negosiasi karena Ukraina harus mempertimbangkan tekanan luar untuk membuat konsesi yang selama ini ditolak.
Pembicaraan damai yang dimediasi AS terus berlangsung dengan penuh tantangan. Status wilayah Donetsk tetap menjadi simpul utama yang harus diselesaikan sebelum tercapai kesepakatan perdamaian antara Rusia dan Ukraina.
