Iranian Pengungsi Sebut Protes Tak Cukup, Butuh Intervensi AS untuk Gulingkan Rezim yang Brutal

Kerusuhan di Iran terus berlanjut dengan gelombang protes yang semakin besar. Namun, para pengungsi dan aktivis menilai rakyat Iran tidak bisa menggulingkan rezim secara mandiri tanpa dukungan internasional.

Shaghayegh Moradiannejad, seorang fotografer Iran yang melarikan diri lima tahun lalu, menyatakan bahwa rakyat Iran sangat frustrasi dan ketakutan karena belum ada intervensi dari luar. Dia menegaskan, “Setiap menit rezim Islam tetap berkuasa berarti lebih banyak nyawa warga Iran yang hilang.” Rezim tersebut terus melakukan pembunuhan tanpa rasa takut akan konsekuensi internasional.

Permintaan Intervensi AS

Para pengungsi menuturkan kepada media bahwa setiap hari masih ada eksekusi terhadap para demonstran. Seorang warga Iran berkata, “Saat kami di jalanan, mata kami selalu memandang ke langit, menunggu bantuan.” Namun, bantuan belum juga datang. Mereka berharap Amerika Serikat segera mengambil tindakan.

Presiden Donald Trump menyebutkan bahwa “armada besar” sedang bergerak menuju Iran dan mendesak rezim untuk segera melakukan kesepakatan nuklir. Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa Trump memantau situasi dengan serius dan menegaskan semua opsi terbuka jika rezim masih mengeksekusi para demonstran. Kebijakan AS ini setidaknya menunda eksekusi beberapa tahanan protes.

Meski begitu, penasehat militer menilai kebijakan Trump lebih berorientasi pada penyelamatan muka terkait negosiasi nuklir daripada benar-benar melindungi para pengunjuk rasa. Mereka menilai momen untuk menyelamatkan rakyat Iran sudah lewat karena kekerasan yang masih terjadi.

Rezim Iran Lebih Agresif

Seorang pengungsi yang berbicara dengan syarat anonim mengungkapkan bahwa pasukan rezim kini melakukan razia rumah ke rumah. Mereka tidak hanya menangkap pengunjuk rasa, tetapi juga dokter yang membantu korban. Penangkapan dilakukan dengan menggunakan teknologi pengenalan wajah, menjadikan warga semakin ketakutan.

Kekhawatiran tersebar bahwa jika Amerika menyerang, rezim bisa melakukan aksi balasan brutal seperti menghancurkan fasilitas sekolah dan menyalahkan pihak luar. Karena itu, banyak orang di Iran menyarankan agar anak-anak tetap berada di rumah, meskipun sekolah masih beroperasi seperti biasa.

Korban Jiwa Protes Sulit Terkalkulasi

Menurut Human Rights Activists News Agency yang berbasis di AS, lebih dari 6.000 orang telah tewas dalam penumpasan protes oleh rezim. Namun, sumber lain meyakini angka sebenarnya jauh lebih tinggi, mendekati 30.000. Data ini sulit dikonfirmasi secara akurat karena kondisi di lapangan sangat terkendali oleh pemerintah.

Situasi di Iran mencerminkan ketegangan yang kompleks antara rakyat yang ingin perubahan dan rezim yang berusaha mempertahankan kekuasaan dengan segala cara. Tanpa bantuan dari luar, perubahan politik di Iran melalui protes rakyat tampak sangat sulit terwujud dalam waktu dekat. Dukungan internasional, terutama dari Amerika Serikat, menjadi kunci yang diharapkan mampu mengubah dinamika ini demi menyelamatkan nyawa dan hak asasi warga Iran.

Terkait