Kontroversi Adu Ayam di Kolombia Jelang Pelarangan: Malam Berdarah di Cartagena Terjadi

Di pinggiran kota Cartagena, sekitar 300 orang berkumpul dan bersorak setelah pertandingan adu ayam yang penuh darah selesai. Sorakan itu bukan untuk gol sepakbola, melainkan untuk kemenangan ayam aduan di arena dengan dinding putih yang berlumuran darah.

Adu ayam di Kolombia merupakan tradisi turun temurun sejak masa penjajahan Spanyol. Namun, tradisi ini akan segera berakhir setelah Mahkamah Konstitusi melarang praktik tersebut. Putusan pengadilan menetapkan masa transisi tiga tahun bagi pemerintah untuk menyediakan mata pencaharian alternatif bagi ribuan orang yang menggantungkan hidup pada aktivitas tersebut.

Dampak Sosial dan Ekonomi Adu Ayam
Menurut Alí Viveros, peternak ayam aduan berusia 38 tahun, adu ayam adalah bagian penting dari budaya dan sumber penghidupan banyak keluarga. Ia juga mengelola toko yang menjual perlengkapan khusus bagi para peternak, seperti vitamin dan kandang. Viveros menekankan bahwa bukan hanya peternak yang bergantung pada praktik ini, tetapi juga para penjual makanan, penjaga pintu, juri, pembersih, dan pembuat kandang.

Federasi nasional adu ayam memperkirakan terdapat hampir 10.000 arena adu ayam di seluruh negeri. Mereka menyatakan bahwa 270.000 hingga 290.000 keluarga bergantung pada industri ini. Namun, data tersebut dipertanyakan oleh organisasi penyayang hewan, karena aktivitas ini sering dilakukan secara informal tanpa catatan resmi. Oleh karena itu, pemerintah diperintah oleh pengadilan untuk melakukan survei guna menentukan jumlah pasti orang yang terlibat.

Perdebatan Etika dan Regulasi
Senator Andrea Padilla yang mendorong pelarangan adu ayam menegaskan bahwa tradisi tidak bisa dijadikan alasan untuk membenarkan kekerasan terhadap makhluk yang mampu merasakan sakit. Ia membandingkan praktik adu ayam dengan praktik buruk lain yang dulu dianggap budaya, seperti perkawinan anak. Padilla juga mengingatkan bahwa selain adu ayam, kegiatan seperti pertarungan banteng, coleo, dan corralejas juga dilarang.

Sementara itu, beberapa peternak seperti Fabián Montes yang memelihara sekitar 1.000 ayam berpendapat bahwa ayam tidak disiksa. Ia menjelaskan bahwa bertarung adalah kondisi alami ayam ini dan merupakan hasil seleksi buatan selama berabad-abad. Montes pun menyarankan agar pemerintah lebih baik mengatur daripada melarang praktik ini secara total.

Kekejaman di Arena Adu Ayam
Dalam pertandingan yang diamati, beberapa ayam tidak langsung bertarung sehingga juri harus mendorong mereka berulang kali. Salah satu ayam bahkan tewas setelah pertarungan. Sebelum bertarung, bagian-bagian tubuh ayam seperti jambul dan bulu kaki dipotong. Taji alami yang tidak cukup mematikan diganti dengan taji buatan dari logam atau resin yang dipasangkan dengan lilin dan perekat panas.

Para peternak mengklaim bahwa hanya kurang dari 20% ayam yang mati saat bertarung. Namun, menurut aktivis, angka kematiannya jauh lebih tinggi dengan tujuan pertarungan agar salah satu ayam tewas.

Tantangan Implementasi Pelarangan
Padilla memperingatkan pemerintah agar lebih serius menangani transisi bagi para pekerja yang bergantung pada adu ayam. Jika tidak, tekanan pelarangan dapat memicu praktik adu ayam secara ilegal. Menurutnya, adu ayam mudah dilakukan di tempat kecil tanpa pengawasan, sehingga pelarangan saja tidak cukup untuk menghapus tradisi ini.

Ia menegaskan bahwa undang-undang tidak dapat menghapus budaya secara instan. Pemerintah perlu langkah konkret untuk mengantisipasi dampak sosial, guna mencegah munculnya praktik gelap di masa mendatang. Hingga kini, pemerintah belum memberikan tanggapan resmi terkait tantangan ini.

Kolombia kini berada pada persimpangan antara melestarikan tradisi lama dan melindungi kesejahteraan hewan. Kebijakan pelarangan adu ayam menunjukkan perubahan sikap terhadap kegiatan yang sebelumnya dianggap sebagai bagian dari identitas budaya, namun kini dipandang sebagai praktik kekerasan yang tidak dapat diterima.

Terkait