Mali Berharap Bangkitkan Pariwisata yang Terpuruk Setelah Krisis Keamanan & Jihadis

Sektor pariwisata Mali kini berada di ujung harapan untuk kebangkitan setelah terpuruk selama beberapa tahun akibat ketidakstabilan keamanan dan pergolakan politik. Peristiwa kudeta beruntun pada 2020 dan 2021, ditambah serangan kelompok jihadis terkait Al-Qaeda dan ISIS, telah menghancurkan kepercayaan wisatawan asing terhadap negara yang dikenal dengan situs warisan dunia UNESCO ini.

Djenne, kota bersejarah di Mali yang terkenal dengan Masjid Agungnya yang terbuat dari bata lumpur, dulunya menjadi destinasi wisata utama. Namun, pandangan optimis pemandu wisata seperti Oumar Cisse kini sirna, beralih profesi menjadi sopir ojek motor demi mencari nafkah. Kondisi ini menggambarkan bagaimana pariwisata lokal yang dahulu menggeliat kini terhenti dan para pekerjanya terkena dampak langsung dari krisis.

Dampak Krisis Keamanan pada Pariwisata

Sejak 2012, Mali dilanda krisis keamanan yang parah. Kelompok bersenjata, mulai dari jaringan jihadis Al-Qaeda hingga ISIS, mengancam stabilitas di wilayah tersebut. Selain itu, pemberontak dan jaringan kriminal turut memperburuk situasi. Akibatnya, tempat-tempat wisata yang sebelumnya ramai dikunjungi seperti Timbuktu dan Gao kini lengang tanpa wisatawan.

Mali memiliki empat situs warisan dunia UNESCO yang dulu menarik minat para pelancong, termasuk Kota Timbuktu dan Makam Askia di Gao, yang menurut UNESCO menunjukkan kekayaan dan kekuasaan kekaisaran trans-Sahara abad ke-15 dan ke-16. Namun, serangan dan ancaman keamanan membuat kawasan ini sulit dijangkau dan berbahaya untuk dikunjungi.

Menurut Sidy Keita, Direktur Mali Tourism, ada masa ketika "turis Barat datang ke Timbuktu dan bukit pasir, serta pangeran Arab yang berburu burung bustard dengan izin dan pemandu." Kini, situasi berubah drastis hingga semua aktivitas tersebut hilang. Situs pariwisata yang ditinggalkan dan penutupan hotel semakin memperdalam krisis industri ini.

Kerugian Ekonomi dan Penurunan Kontribusi terhadap PDB

Angka kunjungan wisatawan yang pernah mencapai 200.000 hingga 300.000 orang per tahun dengan pendapatan 120 miliar CFA (sekitar 215 juta dolar AS) kini menyusut drastis. Menteri Pariwisata Mali, Mamou Daffe, menyatakan bahwa kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang dahulu hampir tiga persen, kini hanya tinggal sekitar satu persen saja.

Penurunan ini terjadi seiring dengan banyaknya penutupan hotel, sementara pemilik-pemiliknya terjerat hutang akibat minimnya pelanggan. Hal ini menyulitkan pemulihan sektor tersebut tanpa intervensi yang kuat dan rencana pemulihan yang efektif.

Strategi Pemulihan dengan Fokus pada Wisata Domestik

Dalam menghadapi kendala besar tersebut, Mali mulai mengembangkan strategi baru dengan mengincar wisatawan domestik. Pemerintah menggalakkan program untuk mendorong pegawai negeri dan masyarakat lokal mengunjungi tempat wisata di dalam negeri, termasuk tur bersubsidi di Bamako dan wilayah lain. Langkah ini diharapkan dapat membangkitkan kembali minat dan aktivitas sektor pariwisata secara perlahan.

Pada Desember lalu, Mali membuka kembali pintu bagi wisatawan asing untuk mengunjungi Timbuktu setelah hampir satu dekade kota tersebut tidak aman karena serangan jihadis. Dalam perhelatan Mali Cultural and Artistic Biennial, para wisatawan asing dijamin keamanan melalui protokol ketat yang mengharuskan pengawalan polisi bagi setiap pengunjung asing.

Maskapai penerbangan lokal Sky Mali melaporkan telah mengangkut hampir 1.000 penumpang menuju Timbuktu menggunakan 12 penerbangan reguler dan dua penerbangan charter dalam rangkaian acara tersebut. Kejadian ini menunjukkan tanda-tanda awal pemulihan pariwisata internasional di Mali meskipun dalam kondisi yang sangat terbatas.

Harapan Baru dan Kerjasama Regional di Kawasan Sahel

Direktur Mali Tourism, Sidy Keita, menilai kehadiran sekitar 100 wisatawan Rusia di Biennial tersebut merupakan pertanda positif bagi kebangkitan industri pariwisata Mali. Ia mengungkapkan, "Harapan sedang dibangkitkan dan ini adalah pelanggan baru. Kami berharap jumlah ini akan bertambah dan menjadi langkah awal kembali menggairahkan pariwisata."

Selain itu, pemerintah militer Mali kini mengalihkan hubungan strategisnya dari Prancis menuju Rusia, yang menjadi mitra utama di bidang energi, pertahanan, dan pendidikan tinggi. Dalam konteks regional, Mali bersama Burkina Faso dan Niger berupaya mengembangkan pariwisata bersama dalam kerangka Aliansi Negara Sahel (AES), sebuah konfederasi negara yang dipimpin oleh rezim junta militer.

Aliansi ini bertujuan untuk memanfaatkan potensi pariwisata lintas batas dan memperkuat kerjasama keamanan demi menciptakan zona wisata yang lebih aman dan menarik di tengah tantangan yang terus berlangsung. Rencana ini menghadirkan perspektif baru untuk industri pariwisata yang telah lama tertatih akibat kondisi tidak stabil.

Sektor pariwisata Mali masih menghadapi hambatan besar yang mengakar pada masalah keamanan dan politik. Namun, upaya peningkatan wisata domestik serta event-event khusus dengan protokol ketat memberikan sinyal bahwa potensi bangkit kembali masih terbuka. Fokus pada kolaborasi regional dan dukungan dari mitra internasional seperti Rusia dapat menjadi kunci untuk mewujudkan pemulihan yang berkelanjutan.

Terkait