Mark Carney Pukau Davos dengan Seruan Melawan Trump, Tapi Tidak Semua Setuju Opini Ini

Mark Carney menarik perhatian dalam forum ekonomi tahunan di Davos dengan pidatonya yang tajam terhadap kebijakan Amerika Serikat di bawah Donald Trump. Ia menyerukan agar negara-negara berukuran menengah bersatu melawan otoritarianisme dan dominasi ekonomi yang mengancam kedaulatan mereka.

Dalam pidatonya, Carney menyebutkan bahwa integrasi ekonomi yang dijadikan "senjata" oleh kekuatan besar bisa berujung pada subordinasi negara menengah. Ia menegaskan, “The middle powers must act together, because if we’re not at the table, we’re on the menu.” Pernyataan ini menjadi sorotan dan mendapat apresiasi di kalangan elit Davos dan pejabat Eropa.

Reaksi Positif dan Kritik di Eropa
Kaja Kallas, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, menyatakan dukungan terhadap pandangan Carney yang menyoroti perubahan tatanan dunia pasca-Perang Dingin. Menurutnya, Eropa perlu segera bertindak menghadapi perubahan ini. Seorang diplomat UE mengaku kata-kata Carney “diterima sangat positif” karena mengungkapkan realita yang selama ini dihindari.

Namun di sisi lain, ada kalangan yang menganggap deklarasi Carney tentang kemandirian parsial dari tatanan Amerika Serikat belum cukup. Mereka menilai pernyataan tersebut belum memberikan peta jalan yang jelas untuk masa depan Eropa. "Menyatakan Pax Americana berakhir bagus, tapi sebagai politisi harus menawarkan solusi," ujar seorang diplomat lain.

Konflik dengan Washington dan Dampaknya
Reaksi keras dari pemerintah AS muncul cepat setelah pidato Carney. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, bahkan mendorong gerakan separatis di provinsi Alberta yang kaya sumber minyak, sambil mengundangnya untuk "ajukan diri ke Amerika". Trump juga mencabut undangan Carney untuk bergabung dalam Board of Peace yang mengawasi rekonstruksi Gaza.

Selain itu, Trump mengancam mengenakan tarif 100 persen kepada Kanada jika melanjutkan kesepakatan dagang dengan China. Carney sebelumnya telah melakukan kunjungan ke Beijing dan menandatangani perjanjian pengurangan tarif untuk kendaraan listrik dan proyek pertanian Kanada, sebagai langkah diversifikasi ekonomi di tengah perubahan kebijakan perdagangan AS.

Tantangan Diplomasi Multi-Dimensi
Carney menghadapi dilema bagaimana menjalin hubungan dengan dua kekuatan besar yang saling bersaing, yakni AS dan China. Sementara itu, Perdana Menteri Inggris, dalam kunjungan ke Beijing, menolak ajakan Carney untuk membentuk blok kekuatan menengah. Ia lebih memilih pendekatan pragmatis untuk membangun jembatan dengan Washington, Brussel, dan Beijing secara simultan.

AS juga berencana melakukan peninjauan ulang Perjanjian Perdagangan Amerika Utara (USMCA) yang ditandatangani beberapa tahun lalu. Perubahan kemungkinan akan memaksa Kanada memberi konsesi lebih kepada Amerika Serikat dalam negosiasi tersebut.

Situasi Politik Dalam Negeri Kanada
Secara domestik, Carney harus menangani pemerintahan minoritas dan kompetisi ketat dengan partai konservatif pimpinan Pierre Poilievre. Meskipun popularitas Carney sedang naik, jajak pendapat menunjukkan keunggulan tipis untuk partainya. Kondisi ekonomi yang menantang seperti kenaikan biaya hidup dan harga hunian yang mahal juga menjadi masalah serius bagi rakyat Kanada.

Shachi Kurl, presiden Angus Reid Institute, menilai bahwa rakyat Kanada mendukung langkah Carney yang tegas menghadapi Trump. Namun, ada kekhawatiran terkait pergeseran yang semakin dekat dengan China karena hubungan ekonomi yang lebih ketat. Ia mengatakan, “Kanada harus mencari mitra dagang lain selain AS karena ketidakpastian hubungan dengan Amerika.”

Pandangan Ahli Tetap Positif Meski Hati-Hati
Profesor Roland Paris dari Universitas Ottawa menyebut Carney sebagai sosok yang tepat untuk saat ini. Ia menganggap bahwa strategi hanya menenangkan Trump bukan solusi yang memadai untuk Kanada. Sikap Carney yang terbuka dan berani menantang kebijakan proteksionisme AS dinilai oleh banyak pihak sebagai langkah berani dan diperlukan di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.

Terkait