Vietnam dan Uni Eropa sepakat memperkuat kerja sama ekonomi dan keamanan selama kunjungan presiden Dewan Eropa ke Hanoi. Langkah ini dilakukan untuk menghadapi ketidakpastian yang makin meningkat dari kebijakan Amerika Serikat.
Presiden Dewan Eropa Antonio Costa menekankan pentingnya Vietnam dan Uni Eropa berdiri sebagai mitra yang dapat diandalkan di tengah ancaman terhadap tatanan internasional berbasis aturan. Sementara itu, Presiden Vietnam Luong Cuong menyebut peningkatan hubungan menjadi kemitraan strategis komprehensif sebagai tonggak baru yang mencerminkan kepercayaan tulus dan saling menguntungkan.
Peningkatan Kemitraan Strategis
Kerja sama yang diperkuat mencakup bidang perdagangan, teknologi, energi, dan keamanan, sebagaimana tertuang dalam pernyataan bersama yang dirilis saat kunjungan tersebut. Kedua pihak sepakat memperdalam kolaborasi di sektor rantai pasokan, mineral penting, semikonduktor, serta kecerdasan buatan.
Cuong menegaskan bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi harus menjadi pilar utama dalam hubungan bilateral. Dia juga menyoroti kebutuhan Vietnam untuk bekerja sama lebih intensif dalam bidang keamanan dan pertahanan, khususnya di area laut dan dunia maya.
Diversifikasi Pasar dan Penguatan Hubungan Internasional
Vietnam mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar delapan persen tahun lalu, meskipun menghadapi tarif impor 20 persen dari pasar ekspor terbesar yakni Amerika Serikat. Kondisi ini mendorong Vietnam mencari pasar baru di luar mitra dagang utama seperti AS dan Cina.
Dalam Konferensi Pimpinan Partai Komunis yang diadakan setiap lima tahun, urusan luar negeri dinaikkan menjadi fungsi nasional inti, sejajar dengan pertahanan nasional dan keamanan dalam negeri. Menurut Khang Vu, pakar Vietnam dan peneliti di Boston College, peningkatan hubungan dengan Uni Eropa mendukung strategi diversifikasi pasar ekspor Vietnam.
Vietnam ingin menjaga lingkungan internasional yang terbuka untuk perdagangan, dan Uni Eropa dianggap dapat membantu mewujudkannya. Selain Uni Eropa, Vietnam juga memiliki kemitraan strategis komprehensif dengan Cina, Rusia, dan Amerika Serikat.
Pendekatan Diplomasi Bambu Vietnam
Sejak lama, Vietnam menjalankan apa yang disebut "diplomasi bambu" dengan berusaha menjaga hubungan baik dengan kekuatan besar dunia. Sejak 2022, Vietnam telah membangun kemitraan serupa dengan hampir sepuluh negara untuk mengakses pasar, ilmu pengetahuan, dan teknologi mereka.
Polanya menunjukkan bahwa Vietnam berupaya mengambil peran internasional yang lebih besar melalui jaringan kemitraan strategis yang luas. Intensifikasi kerja sama dengan Uni Eropa tidak hanya memperkuat posisi Hanoi di kancah global, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas dan pertumbuhan ekonomi regional.
Dengan latar belakang dinamika geopolitik dan ketegangan perdagangan global, kemitraan strategis Vietnam-Eropa menjadi salah satu fondasi penting bagi keberlanjutan perkembangan ekonomi dan keamanan kawasan Asia Tenggara.
