Iran Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau yang dikenal dengan sebutan Pasdaran merupakan kekuatan militer ideologis utama Republik Islam Iran. Mereka berperan penting menjaga kelangsungan revolusi dan kerap menjadi ujung tombak dalam meredam aksi protes di Iran. Kelompok ini dipandang sebagai pilar rezim teokrasi, namun di sisi lain mendapat kecaman keras dari kelompok hak asasi dan negara-negara Barat terkait pelanggaran HAM serta aktivitas militan.
IRGC terdiri dari banyak cabang yang terlibat dalam berbagai aspek politik, ekonomi, dan sosial di Iran. Anggotanya diperkirakan mencapai sekitar 200.000 personel yang memiliki kemampuan tempur unggul termasuk bidang darat, laut, dan udara. Kelompok ini juga menyalurkan hubungan ke sekutu regional seperti Hezbollah di Lebanon dan milisi pro-Iran di Irak, menjadikannya kekuatan kompleks sekaligus berpengaruh.
Peran IRGC dalam Represi Demonstrasi
Amnesty International menegaskan bahwa IRGC bersama dengan pasukan paramiliter sukarelawan bernama Basij, turut berpartisipasi aktif dalam penindakan kekerasan terhadap demonstran damai. Demonstrasi yang berlangsung sebagai bentuk penolakan terhadap kepemimpinan clerical Iran telah menyisakan ribuan korban jiwa. Basij sendiri terdiri dari ratusan ribu anggota muda yang merepresentasikan sayap ideologis dan pengawasan sosial hingga tingkat akar rumput masyarakat.
Sebuah unit rahasia IRGC bernama Tharallah Headquarters menjadi pusat komando koordinasi keamanan di Teheran, khususnya saat krisis sosial. Unit ini mengatur intelijen, kepolisian, Basij, serta operasi psikologis sebagai bagian dari strategi terencana, bukan pendekatan improvisasi dalam menekan kerusuhan warga. Sebuah penelitian oleh lembaga United Against Nuclear Iran (UANI) menegaskan bahwa Tharallah merupakan “otak operasional” rezim di masa kegaduhan sosial.
Kekuatan Ekonomi dan Militer IRGC
Selain dominasi militer, IRGC juga mengontrol bisnis di berbagai sektor strategis ekonomi Iran. Diperkirakan anggaran militer IRGC mencapai 6-9 miliar dolar AS, yang mewakili sekitar 40 persen dari total anggaran militer resmi negara. Kontrol ekonomi dan militer ini membuat IRGC diibaratkan sebagai “kerajaan dalam kerajaan,” sebuah kekuatan paralel yang mendukung stabilitas rezim sekaligus memperluas pengaruhnya.
Quds Force, unit khusus IRGC yang bertugas di luar negeri, juga dikenal aktif dalam menginisiasi serangan dan operasi militan di kawasan Timur Tengah. Kepala lama unit ini, Qasem Soleimani, wafat akibat serangan militer Amerika Serikat yang semakin mengenalkan IRGC sebagai aktor utama dalam konflik regional.
Kepemimpinan dan Ancaman terhadap Musuh
Panglima IRGC saat ini adalah Jenderal Mohammad Pakpour, yang ditunjuk langsung oleh Ayatollah Ali Khamenei. Pakpour menggantikan Hossein Salami, yang tewas dalam serangan Israel dalam konflik singkat yang terjadi pada pertengahan tahun. Pemimpin baru ini memperingatkan Amerika Serikat dan Israel agar tidak melakukan “perhitungan keliru” yang bisa membawa konsekuensi lebih berat bagi kedua negara tersebut.
Pakpour juga menegaskan kesatuan antara IRGC dan angkatan bersenjata biasa dalam sebuah upacara militer terbuka. Kesetiaan kuat terhadap Khamenei terlihat dari pernyataannya bahwa pemimpin tertinggi Iran tersebut adalah “lebih berharga dari nyawa mereka sendiri.” Ini mencerminkan posisi sentral IRGC sebagai penjaga ideologi sekaligus kekuatan represif rezim.
Basij: Sayap Ideologis dalam Masyarakat
Basij adalah jaringan sosial dan paramiliter yang merekrut terutama pemuda Iran untuk menerapkan nilai-nilai revolusi dalam berbagai ranah kehidupan sehari-hari. Mereka tidak hanya bertugas sebagai pasukan tambahan dalam operasi penindasan, tetapi juga sebagai penjaga ideologi dan pengontrol sosial dalam struktur masyarakat.
Kekuatan IRGC bersama Basij membentuk sistem keamanan dalam negeri yang ketat dan efektif dalam meredam gerakan protes yang dianggap mengancam kestabilan rezim. Investasi besar dalam militer dan ekonomi ini memungkinkan IRGC mempertahankan dominasi politik dan pengaruh luas di Iran.
dengan tekanan internasional semakin besar, European Union baru-baru ini menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris, menyusul keputusan serupa dari Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Langkah ini menunjukkan meningkatnya kesadaran global terhadap peran represif dan risiko keamanan yang ditimbulkan oleh Pasdaran.
Penunjukan ini diharapkan menjadi sinyal kuat kepada rezim Iran bahwa tindakan keras terhadap demonstran dan aktivitas militan tidak akan ditoleransi oleh komunitas internasional. Namun, peran dan pengaruh IRGC dalam struktur pemerintahan dan masyarakat Iran masih tetap melekat secara mendalam, membuat perubahan signifikan menjadi tantangan besar.





