Pasukan Kurdi yang dipimpin oleh Syrian Democratic Forces (SDF) telah mencapai kesepakatan komprehensif untuk integrasi dengan tentara pemerintah Suriah. Langkah ini muncul setelah konflik berkepanjangan di wilayah utara dan timur laut Suriah, yang sebelumnya dikuasai oleh SDF.
Pemerintah transisi di Damaskus sebelumnya melancarkan ofensif militer terhadap SDF untuk mengonsolidasikan kendali atas wilayah tersebut. Namun, selama seminggu terakhir, gencatan senjata berubah menjadi kesepakatan fase integrasi penuh antara pasukan Kurdi dan tentara Suriah, sebagaimana dinyatakan oleh SDF dalam pernyataan resmi.
Detail Integrasi Militer dan Sipil
Kesepakatan meliputi penarikan pasukan SDF dari garis depan dan penempatan unit-unit pemerintah di pusat kota Hasakah dan Qamishli. Selain itu, pasukan keamanan lokal akan digabungkan untuk membentuk struktur keamanan terpadu.
Sebuah divisi militer baru dibentuk, yang terdiri dari tiga brigade SDF. Ada pula brigade lain di kota Kobane yang akan berada di bawah gubernur Aleppo, wilayah utama Kurdi di timur laut Suriah. Pemerintahan lokal Kurdi juga akan dilebur ke dalam institusi negara.
Latar Belakang dan Implikasi Politik
SDF sebelumnya menguasai lebih dari seperempat wilayah Suriah, menjadikannya kekuatan signifikan dalam dinamika konflik internal. Kesepakatan integrasi ini mengikuti perjanjian awal tahun sebelumnya, yang mengalami kemajuan lambat hingga akhirnya memicu operasi militer pemerintah.
Presiden sementara Ahmed al-Sharaa, yang sebelumnya memiliki hubungan dengan ISIS, kini berhasil memperkuat posisi politiknya melalui kesepakatan ini. Ia berfokus pada kedaulatan nasional dan upaya menyatukan berbagai kekuatan politik dalam satu payung negara.
Respon dan Pandangan Internasional
Duta besar Amerika Serikat untuk Suriah, Tom Barrack, menyebut kesepakatan ini sebagai “tonggak sejarah” yang mencerminkan komitmen bersama terhadap inklusivitas dan martabat komunitas Suriah. Presiden AS Donald Trump pun menyatakan kepuasan atas perkembangan terbaru usai berbicara langsung dengan al-Sharaa.
Al-Sharaa menegaskan komitmen Suriah terhadap integritas wilayah dan perdamaian sipil dalam diskusinya dengan Trump. Posisi AS beralih mendukung pemerintah transisi di bawah al-Sharaa sebagai mitra utama di Suriah, menggantikan dukungan sebelumnya kepada SDF.
Upaya Memperbaiki Hubungan Luar Negeri
Selain fokus domestik, al-Sharaa juga menggalakkan diplomasi internasional untuk memperkuat posisi Suriah. Ia bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow dalam pembicaraan mengenai keberlanjutan basis militer Rusia di wilayah tersebut.
Kesepakatan ini menandai perubahan signifikan dalam peta kekuatan Suriah. Integrasi pasukan Kurdi ke dalam struktur negara diyakini dapat memperkuat stabilitas dan mendorong rekonsiliasi nasional dalam jangka menengah. Namun, perjalanan implementasi tetap akan diawasi ketat oleh komunitas internasional dan aktor regional.
