Perjanjian kontrol senjata nuklir terakhir antara Rusia dan Amerika Serikat, yang dikenal sebagai New START, akan berakhir pada awal Februari. Perjanjian ini menetapkan batasan penting pada jumlah senjata nuklir strategis yang dapat dikerahkan oleh kedua negara. Masa berlakunya yang hampir selesai menimbulkan kekhawatiran terkait potensi perlombaan senjata nuklir yang tidak terkendali.
New START ditandatangani oleh Presiden AS Barack Obama dan Presiden Rusia saat itu Dmitry Medvedev pada 2010. Perjanjian ini membatasi jumlah hulu ledak nuklir tajam yang boleh ditempatkan sekitar 1.550 oleh masing-masing pihak. Selain itu, ada batas maksimal 700 rudal yang diluncurkan dari darat atau kapal selam serta pesawat pembom, dan maksimal 800 peluncur senjata.
Sistem pengawasan dalam perjanjian ini mencakup inspeksi mendadak di lokasi untuk memastikan kepatuhan. Namun, pemeriksaan ini sempat terhenti akibat pandemi dan kemudian dihentikan oleh Rusia pada tahun lalu karena ketegangan yang dipicu oleh dukungan Amerika terhadap Ukraina. Walau demikian, kedua negara belum saling menuduh melanggar batas jumlah hulu ledak yang disepakati.
Perpanjangan New START hanya bisa dilakukan satu kali, dan sudah pernah diperpanjang pada awal kepemimpinan Presiden Joe Biden. Presiden Rusia Vladimir Putin sempat mengusulkan perpanjangan informal satu tahun untuk tetap mematuhi batas yang ada, tetapi tanggapan resmi dari pihak Amerika Serikat belum diterima.
Perlu dicatat ada pandangan yang berbeda terkait perpanjangan perjanjian. Pendukungnya berargumen hal ini penting untuk menunjukkan komitmen bersama menghindari perlombaan senjata nuklir. Sebaliknya, pihak yang menentang percaya AS harus memperkuat persenjataannya untuk menanggapi peningkatan cepat kemampuan nuklir China serta untuk menghindari kesan melemah.
Ketiadaan perjanjian pengganti menghadirkan risiko serius. Tanpa pembatasan formal, kedua negara dapat menambah jumlah rudal dan hulu ledak nuklir strategis secara signifikan. Meskipun implementasi penambahan tersebut memerlukan waktu dan teknologi yang tidak singkat, hal ini bisa memicu kembali perlombaan senjata yang tidak terkendali.
Penting untuk dipahami bahwa nilai utama New START bukan hanya pada pembatasan angka, melainkan juga pada kerangka kerja yang transparan dan stabil. Ini membantu menjaga keseimbangan strategis dan mengurangi risiko eskalasi konflik nuklir di tengah ketegangan geopolitik saat ini, termasuk perang di Ukraina dan konflik di Timur Tengah.
Membuat perjanjian pengganti yang efektif tidaklah mudah. Dibutuhkan negosiasi panjang dan rumit untuk mengatur semua jenis senjata nuklir termasuk senjata jarak pendek, menengah, dan sistem baru seperti misil jelajah Burevestnik dan torpedo Poseidon yang dikembangkan Rusia. Selain itu, konflik kepentingan turut menyulitkan proses, karena melibatkan tidak hanya Rusia dan Amerika Serikat, tapi juga China yang keberatan bergabung dalam pembicaraan trilateral, serta penolakan dari Inggris dan Prancis yang ingin tetap berdiri di luar negosiasi.
Dengan masa berlaku New START berakhir, dunia menghadapi ketidakpastian besar dalam pengendalian senjata nuklir. Upaya berkelanjutan untuk mencapai kesepakatan baru sangat penting demi menjaga stabilitas keamanan global di masa depan.







