Presiden Diaz-Canel Kutuk Langkah Trump Tekan Ekonomi Kuba dengan Tarif Minyak Baru

Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, mengecam upaya Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dianggap berupaya “mencekik” ekonomi Kuba yang sudah terdampak sanksi. Trump menandatangani sebuah perintah eksekutif yang mengancam pemberlakuan tarif tambahan terhadap negara-negara yang menjual minyak ke Kuba.

Langkah ini merupakan bagian dari tekanan Washington terhadap Kuba, dengan alasan pemerintah komunis di Kuba dianggap sebagai “ancaman luar biasa dan tak biasa” bagi keamanan nasional AS. Diaz-Canel mengkritik keras kebijakan tersebut melalui unggahan di media sosial, menyebutnya sebagai alasan palsu dan tidak beralasan untuk menargetkan ekonomi Kuba. Ia menuduh kebijakan Trump mengungkapkan sifat “fasis, kriminal, dan genosidal” dari kelompok yang memegang kepentingan politik Amerika untuk keuntungan pribadi.

Ancaman Terhadap Pasokan Energi Kuba
Kuba kini menghadapi pemadaman listrik bergilir yang disebabkan oleh kekurangan bahan bakar. Situasi ini diperparah setelah Kuba putus pasokan minyak penting dari Venezuela akibat operasi militer AS yang menawan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan istrinya dalam serangan malam di Caracas. Serangan yang terjadi pada awal Januari itu menewaskan sedikitnya 32 anggota militer dan intelijen Kuba.

AS kini menguasai sektor minyak Venezuela dan Trump mengeluarkan ancaman kepada pemerintah-pemerintah sayap kiri di kawasan, termasuk janji menghentikan pengiriman minyak ke Kuba. Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez, menyatakan bahwa perintah Trump merupakan “ancaman luar biasa dan tak biasa” yang memicu darurat internasional. Pemerintah Venezuela juga mengecam langkah tersebut karena dianggap melanggar hukum internasional dan prinsip perdagangan global.

Reaksi Warga Kuba dan Dampak Ekonomi
Warga Kuba menunjukkan kemarahan atas ancaman tarif baru yang diperkirakan akan memperparah kesulitan hidup akibat sanksi AS yang terus meningkat. Yenia Leon, seorang warga Havana, mengeluhkan keadaan buruk akibat pemadaman listrik dan kesulitan memperoleh makanan segar. Seorang pensiunan desainer grafis berusia 89 tahun, Lazaro Alfonso, menyamakan situasi ini dengan sebuah “perang” dan menggambarkan Trump sebagai “sheriff dunia” yang menjalankan aturan seenaknya.

Alfonso yang pernah mengalami masa suram “Periode Khusus” pada 1990-an akibat hilangnya bantuan Soviet, menyatakan bahwa kondisi saat ini lebih buruk dengan pemadaman parah, kelangkaan bahan pokok, serta bahan bakar yang makin sulit didapat. Ia bahkan menyiratkan bahwa yang tersisa hanyalah ancaman serangan militer yang mengerikan.

Peran Negara Lain dan Risiko Krisis Kemanusiaan
Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, menyatakan akan mencari alternatif untuk terus membantu Kuba setelah pengumuman Trump yang mempengaruhi pasokan minyak ke pulau tersebut. Meksiko bersama Rusia menjadi pemasok utama bahan bakar ke Kuba sejak sanksi AS terhadap Venezuela membuat pengiriman minyak terhenti.

Sheinbaum memperingatkan bahwa pemutusan pasokan minyak dapat memicu krisis kemanusiaan yang parah, berdampak pada sektor transportasi, rumah sakit, dan ketersediaan pangan. Meksiko menyumbang sekitar 44 persen impor minyak Kuba, sedangkan Venezuela memberikan 33 persen sampai bulan lalu, dengan Rusia memasok sekitar 10 persen.

Sanksi AS Lama dan Dampaknya Terhadap Hak Asasi
Sanksi hampir total yang diberlakukan AS terhadap Kuba sejak 1962 bertujuan menggulingkan pemerintahan Fidel Castro setelah revolusi. Alena Douhan, pelapor khusus PBB mengenai dampak negatif sanksi sepihak terhadap hak asasi manusia, menyebutkan bahwa rezim pembatasan ekonomi, perdagangan, dan keuangan ini adalah kebijakan sanksi unilateral terlama dalam sejarah AS.

Douhan menekankan bahwa Kuba menghadapi kekurangan bahan makanan, obat-obatan, listrik, air, mesin penting, dan suku cadang. Selain itu, gelombang emigrasi tenaga ahli, termasuk tenaga medis, insinyur, dan guru, kian memperberat kondisi negara. Akibat kumulatif dari hal ini mengancam hak-hak dasar rakyat Kuba, termasuk hak atas kehidupan, pangan, kesehatan, dan pembangunan.

Kebijakan Trump yang mengancam pemberlakuan tarif baru dan memutus pasokan minyak memperlihatkan eskalasi tekanan ekonomi terhadap Kuba. Situasi ini menambah beban bagi negara yang tengah mengalami krisis energi dan kelangkaan bahan pokok. Respon keras dari pemimpin Kuba dan kritik internasional menandai ketegangan antara kebijakan luar negeri AS dengan upaya negara-negara lain untuk mendukung stabilitas Kuba.

Exit mobile version