Kisah Melarikan Diri Dokter dari Kota Darfur di Tengah Serangan Militan
Dr. Mohamed Ibrahim mengalami pengalaman traumatis saat berupaya melarikan diri dari el-Fasher, ibu kota provinsi Darfur Utara di Sudan, yang dihancurkan oleh serangan militan paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Selama tiga hari, ledakan dan tembakan menguasai kota, sementara ribuan warga sipil terjebak dalam kekacauan dan kematian massal. Ibrahim, yang bekerja di rumah sakit terakhir yang masih berfungsi, harus menyaksikan banyak korban jiwa di sekitarnya saat mencoba mencari perlindungan.
Pengepungan el-Fasher oleh RSF telah menciptakan apa yang oleh PBB disebut sebagai “situs kejahatan masif.” Sebanyak 60 persen dari 260 ribu penduduk kota tak terselamatkan, dengan ribuan lainnya terluka parah. Tim kemanusiaan yang akhirnya bisa mengakses kota itu menemukan el-Fasher hampir kosong, berubah menjadi kota hantu akibat kekerasan serius dan eksodus massal rakyatnya.
Kondisi Horor saat Serangan RSF
Saat serangan dimulai, Ibrahim yang berada di Rumah Sakit Saudi Maternity Hospital berada di tengah kengerian. RSF menembakkan artileri dan menyerang kota dengan drone, yang memaksa awak medis berkurang drastis hingga hanya tersisa 11 dokter. Ibrahim mengaku mereka berjuang tanpa henti dengan persediaan medis yang semakin menipis dan tekanan terus-menerus dari serangan militan.
Pada pagi hari serangan puncak, Ibrahim dan koleganya memutuskan melarikan diri menuju markas militer yang berjarak sekitar 1,5 km. Dalam perjalanan, mereka melewati mayat-mayat di jalan serta warga yang terluka parah dan bersembunyi. Serangan bertubi-tubi membuat para pelarian harus berpindah-pindah tempat sembunyi dan melewati risiko tinggi tanpa jaminan keselamatan.
Pengejaran dan Penangkapan oleh Militan
Setelah tiba di sebuah kamp mahasiswa di universitas lokal, Ibrahim terpisah dengan rekannya akibat serangan artileri RSF yang mengguncang area tersebut. Ia bersembunyi di berbagai tempat termasuk dalam tangki air kosong dan di balik dinding runtuh, sambil mendengar teriakan dan suara tembakan yang hampir tidak berakhir. Ketika situasi mulai mereda, ia berhasil mencapai kembali markas militer dengan kondisi penuh luka dan trauma.
Namun, pelarian belum usai. Malam itu, bersama sekitar 200 warga lainnya, ia berusaha keluar dari el-Fasher menuju kota Tawila yang berjarak puluhan kilometer. Mereka harus melewati parit-parit tinggi yang dibuat RSF guna memperketat blokade. Banyak anggota kelompok ini yang terjatuh dan nasib mereka tidak diketahui sampai sekarang. Saat menyusuri jalan di bawah sinar bulan, kelompok itu terhenti oleh sergapan militan yang menyerbu mereka dengan kendaraan bersenjata dan motor.
Militan RSF menahan dan menginterogasi Ibrahim serta beberapa dokter lainnya. Mereka memaksa dokter tersebut membayar tebusan dengan jumlah fantastis yang tak terjangkau oleh keluarga mereka. Setelah negosiasi dan tekanan fisik yang keras, Ibrahim akhirnya menghubungi keluarga dan berhasil mengirim uang tebusan, meski jumlahnya sangat besar untuk kondisi ekonomi di Sudan.
Pelarian ke Kawasan Aman dan Dampak Perang
Setelah pembebasan bersyarat dan melalui situasi berbahaya di wilayah yang dikuasai RSF, Ibrahim dan rekan-rekannya akhirnya sampai ke wilayah yang dikuasai oleh Sudan Liberation Army-Abdul Wahid, kelompok pemberontak yang tidak terlibat dalam konflik antara RSF dan tentara Sudan. Mereka mendapatkan perlindungan dan bantuan medis dari organisasi kemanusiaan, serta bergabung dengan gelombang besar pengungsi yang melarikan diri dari perang.
Pengalaman ini menjadi gambaran nyata kekejaman dan penderitaan warga sipil selama konflik di Darfur. PBB dan pengadilan internasional tengah menyelidiki sejumlah kejahatan perang dan tindakan kekerasan sistematis yang dilakukan RSF selama serangan tersebut. Wakil Jaksa Pengadilan Kriminal Internasional menyatakan bahwa tindakan RSF merupakan pelanggaran serius terhadap hukum kemanusiaan dan bisa dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.
Fakta Penting Mengenai Serangan di El-Fasher:
- RSF melakukan pengepungan dan serangan ke el-Fasher selama lebih dari 18 bulan.
- Sekitar 40 persen dari penduduk asli berhasil melarikan diri dari kota.
- Setidaknya 460 warga tewas dalam satu serangan di rumah sakit terakhir yang berfungsi.
- Banyak warga terluka dan ribuan lainnya menjadi korban penyiksaan serta penculikan.
- Ratusan dokter dan tenaga medis menjadi sasaran kekerasan dan penangkapan.
- Uang tebusan ribuan dolar AS dipaksakan untuk membebaskan dokter yang ditahan militan.
Kesaksian Dr. Mohamed Ibrahim mengungkapkan gambaran brutal dan nyata perang yang menghancurkan kehidupan masyarakat Darfur. Ia juga menunjukan keberanian tenaga medis yang tetap berjuang menyelamatkan nyawa meski menghadapi bahaya luar biasa. Konflik ini menjadi peringatan sekaligus panggilan bagi dunia internasional untuk memperhatikan dan mengupayakan penyelesaian yang adil serta perlindungan bagi warga sipil di Sudan.
