Kesepakatan Nuklir AS-Saudi Mengusik Israel, Lawan Netanyahu Sebut Bencana Strategis

Author: Qoo Media

Kesepakatan nuklir sipil antara Amerika Serikat dan Arab Saudi memicu kekhawatiran baru di Israel. Sejumlah lawan politik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menilai langkah itu dapat mengubah keseimbangan keamanan di Timur Tengah.

Netanyahu sendiri belum menyampaikan tanggapan resmi atas kerja sama tersebut. Namun, kritik keras muncul karena kesepakatan itu berlangsung tanpa kemajuan normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Israel.

Kekhawatiran atas Perlombaan Senjata

Amerika Serikat dan Arab Saudi resmi meneken kerja sama pengembangan nuklir pada Rabu. Detail resmi dokumen belum dirilis, tetapi laporan media AS menyebut perusahaan Amerika berpeluang mengembangkan nuklir sipil hingga membangun situs pengayaan uranium di Saudi.

Menurut www.cnnindonesia.com, kesepakatan itu menjadi sorotan karena Saudi merupakan salah satu rival utama Israel di kawasan. Perjanjian tersebut juga hadir ketika ketegangan AS dan Iran kembali memanas.

Tokoh Posisi Kekhawatiran Utama
Avigdor Liberman Mantan Menteri Pertahanan Israel Program sipil dapat berujung pada senjata nuklir dan perlombaan senjata regional
Yair Golan Ketua Partai Demokrat Israel Kesepakatan menciptakan realitas berbahaya bagi Israel
Yoel Guzansky Peneliti senior INSS Risiko proliferasi dan munculnya preseden “model Saudi”

Avigdor Liberman, mantan Menteri Pertahanan Israel sekaligus pemimpin Partai Yisrael Beiteinu, menyebut perjanjian itu sebagai ancaman serius. Dalam unggahan di X, ia menilai program nuklir sipil Saudi pada akhirnya dapat bermuara pada kepemilikan senjata nuklir.

Liberman juga memperingatkan potensi perlombaan senjata yang tidak terkendali di seluruh Timur Tengah. Kekhawatiran itu bertumpu pada kemungkinan teknologi dan infrastruktur sipil membuka jalan bagi kemampuan nuklir yang lebih sensitif.

Normalisasi yang Tak Terwujud

Yair Golan, Ketua Partai Demokrat Israel, menilai kerja sama AS-Saudi menciptakan “realitas yang berbahaya” bagi Israel. Purnawirawan jenderal militer itu menuduh Netanyahu telah mencapai hasil yang sebelumnya dianggap mustahil.

“Ia sekaligus kehilangan peluang normalisasi hubungan dengan Arab Saudi dan memungkinkan negara itu memperoleh kemampuan nuklir,” ujar Golan, seperti dikutip CNN. Kritik itu menyoroti dua kepentingan Israel yang kini dinilai bergerak ke arah berlawanan.

Peneliti senior Institute for National Security Studies, Yoel Guzansky, mengatakan kerja sama nuklir antara Washington dan Riyadh pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden dikaitkan langsung dengan normalisasi Saudi-Israel. Skema itu berubah setelah serangan 7 Oktober 2023 dan agresi Israel yang menyusul di Jalur Gaza.

Menurut Guzansky, prospek normalisasi menyusut karena Arab Saudi mengambil sikap yang semakin keras terhadap Israel. Ia menilai kondisi politik di bawah pemerintahan sayap kanan Israel saat ini pada dasarnya tidak memungkinkan normalisasi itu terwujud.

Risiko “Model Saudi” di Kawasan

Situasi tersebut dinilai menguntungkan Riyadh karena Saudi bisa memperoleh program nuklir tanpa perlu memberikan imbalan dalam bentuk normalisasi dengan Israel. Bagi pihak-pihak yang mengkritik Netanyahu, hasil itu menjadi bukti kegagalan strategis yang berpotensi panjang.

Guzansky juga mengingatkan kemungkinan munculnya “model Saudi”, yakni preseden yang dapat mendorong negara lain di kawasan menuntut kesepakatan serupa. Jika itu terjadi, risiko proliferasi nuklir di Timur Tengah dapat meningkat.

Ia menilai Israel kemungkinan tidak mampu menghentikan perjanjian tersebut sepenuhnya. Namun, Israel masih dapat mengupayakan penyempurnaan melalui Kongres, terutama terkait mekanisme pengawasan dan inspeksi.

Kerja sama ini berlangsung di tengah perang AS melawan Iran yang kembali memanas. Salah satu tujuan AS dalam konflik itu adalah melucuti senjata nuklir Iran, sehingga kesepakatan nuklir dengan Saudi menjadi isu yang semakin sensitif bagi Israel dan kawasan.

Source: www.cnnindonesia.com
Terbaru