Milisi Houthi di Yaman dilaporkan memaksa enam kapal di Laut Merah mengubah rute setelah mengirimkan peringatan kepada perusahaan pelayaran internasional. Tekanan ini menambah ketidakpastian di salah satu jalur laut paling penting bagi perdagangan dan pasokan energi global.
Kapal-kapal tersebut diminta tidak melintasi Selat Bab Al Mandab, gerbang selatan menuju Laut Merah di pintu masuk Semenanjung Arab. Jalur ini menjadi titik strategis karena menghubungkan perairan Laut Merah dengan rute pelayaran di sekitar Yaman.
Enam Kapal Dilaporkan Berubah Rute
Kantor berita Saba yang dikelola Houthi menyatakan enam kapal telah mengalihkan pelayarannya setelah menerima peringatan dari kelompok tersebut. Informasi itu dilaporkan CNNIndonesia.com dengan mengutip Middle East Monitor.
Sejumlah pejabat Houthi juga mengatakan perusahaan pelayaran internasional telah diperingatkan agar tidak melakukan transit melalui Selat Bab Al Mandab. Peringatan itu menempatkan pelayaran komersial di kawasan tersebut dalam situasi yang semakin berisiko.
Houthi sebelumnya mengumumkan rencana blokade terhadap kapal komersial dari dan menuju Bab Al Mandab yang terkait dengan Arab Saudi. Pengumuman itu kemudian diikuti larangan pelayaran maritim terhadap Arab Saudi.
Dalam surel yang dikirim kepada perusahaan pelayaran, Houthi menyatakan kapal dilarang memuat maupun membongkar kargo di pelabuhan Saudi. Kelompok itu memperingatkan perusahaan yang terlibat dalam aktivitas tersebut dapat menjadi sasaran “di mana saja.”
Risiko pada Jalur Perdagangan dan Energi
Penutupan Selat Bab Al Mandab berpotensi memutus jalur alternatif penting bagi Arab Saudi menuju Selat Hormuz. Kondisi itu juga dapat memunculkan kekhawatiran baru mengenai kelancaran pasokan di kawasan.
Bab Al Mandab merupakan pintu masuk selatan dari dan menuju Laut Merah. Gangguan di selat tersebut dapat meningkatkan risiko terhadap perdagangan di luar Teluk serta pasokan energi global.
Langkah Houthi dinilai dapat membuka front baru yang berkaitan dengan ketegangan Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini memperlihatkan bagaimana konflik di kawasan dapat berdampak langsung pada rute kapal komersial internasional.
Laut Merah sendiri belum sepenuhnya pulih sebagai jalur pelayaran sejak Houthi mulai menyerang kapal-kapal di lepas pantai Yaman pada November 2023. Serangan tersebut membuat keamanan pelayaran di sekitar Yaman terus menjadi perhatian perusahaan angkutan laut.
Kampanye yang Dikaitkan dengan Gaza
Houthi menyatakan kampanye mereka di laut bertujuan mendukung Palestina dan menentang perang di Gaza. Pernyataan itu menjadi dasar yang dikemukakan kelompok tersebut untuk aksi terhadap kapal-kapal di kawasan Laut Merah.
Namun, peringatan terhadap perusahaan pelayaran dan pengalihan rute enam kapal menunjukkan dampak kampanye itu telah menyentuh aktivitas komersial. Bagi pelayaran internasional, Selat Bab Al Mandab kini kembali menjadi titik yang harus diperhitungkan secara serius.
Perubahan rute kapal dapat menjadi pilihan untuk menghindari risiko transit di perairan sekitar Yaman. Pada saat yang sama, tekanan terhadap jalur Laut Merah memperbesar perhatian terhadap keberlangsungan perdagangan dan distribusi energi di kawasan.
