Mengapa Prabowo Memilih Sudaryono Pimpin BGN, Kunci MBG Tak Boleh Kosong

Author: Qoo Media

Presiden Prabowo Subianto menunjuk Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) setelah Nanik Sudaryati Deyang mengundurkan diri karena alasan kesehatan. Penunjukan ini dilakukan agar kepemimpinan lembaga yang mengawal program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak mengalami kekosongan.

Posisi Kepala BGN dipandang strategis karena berkaitan langsung dengan pelaksanaan program prioritas pemerintah tersebut. Sudaryono, yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Pertanian, dinilai telah mengenal konsep dan kebutuhan teknis MBG sejak tahap awal perencanaan.

Tiga Pertimbangan Penunjukan Sudaryono

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa keputusan memilih Sudaryono didasarkan pada kebutuhan menjaga kesinambungan program. Selain memahami rancangan MBG, ia juga memiliki pengalaman yang terkait dengan penyediaan bahan pangan untuk program itu.

Pertimbangan Kaitan dengan BGN dan MBG
Kepemimpinan BGN tidak boleh kosong BGN memegang peran strategis dalam mengawal program Makan Bergizi Gratis.
Terlibat sejak awal perencanaan Sudaryono disebut ikut berdiskusi, menggagas, dan mengonsep teknis pelaksanaan MBG.
Pengalaman di Kementerian Pertanian Tugasnya bersinggungan dengan ketersediaan bahan baku dan pangan bagi penerima manfaat MBG.

Prasetyo menyebut Sudaryono telah mengikuti lahirnya konsep program tersebut dan terlibat dalam pembahasan teknisnya. “Beliau juga sejak awal mengikuti dan bersama-sama dengan kami semua berdiskusi, menggagas, dan mengonsep bagaimana teknis pelaksanaan makan bergizi gratis ini,” kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (22/7/2026).

Menurut Prasetyo, keterkaitan Sudaryono dengan sektor pertanian menjadi alasan penting lainnya. Program pemberian makanan bergizi membutuhkan pasokan bahan pangan yang stabil, sementara Kementerian Pertanian menjadi bagian dari ekosistem penopang kebutuhan tersebut.

Ia menilai penyediaan bahan baku untuk menu MBG tidak dapat dipisahkan dari pekerjaan Sudaryono sebelumnya sebagai Wakil Menteri Pertanian. Pasokan pangan itu diperlukan untuk menyiapkan makanan bagi para penerima manfaat di berbagai daerah.

MBG Dinilai Menggerakkan Ekonomi Lokal

Usai dilantik, Sudaryono menekankan bahwa MBG tidak semata-mata ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Ia melihat program ini juga berpotensi menyerap hasil produksi petani, peternak, dan nelayan.

Menurut penjelasannya, skala program yang besar membuat kebutuhan bahan pangan ikut meningkat. Kondisi tersebut dinilai dapat membuka ruang penyerapan produk lokal yang sebelumnya berisiko tidak tersalurkan ke pasar.

Sudaryono menggambarkan besarnya daya serap program MBG dengan perumpamaan permainan Pacman. “Ini adalah program grande. Saya di beberapa kesempatan menyampaikan bahwa program ini tuh ibarat Pacman jadi apa-apa dimakan,” ujarnya setelah pelantikan di Istana Negara, Jakarta Pusat.

Ia mengatakan, sebelum MBG berjalan, sebagian petani dan peternak menghadapi kondisi produksi berlebih yang sulit dijual. Contoh yang disebutnya mencakup susu, wortel, sayuran, bawang, serta hasil pangan lain yang berpotensi terbuang.

Sudaryono berharap keberadaan MBG dapat mengurangi persoalan hasil produksi yang tidak terserap. Namun, ia menekankan bahwa distribusi tetap menjadi aspek yang harus diperhatikan agar bahan pangan dari daerah dapat sampai ke kebutuhan program.

Dalam pandangannya, efek MBG dapat terasa di tingkat lokal karena kebutuhan makanan bergizi membutuhkan dukungan rantai pasok yang luas. Peternak, nelayan, dan petani menjadi kelompok yang disebut dapat memperoleh manfaat dari penyerapan ekonomi tersebut.

Penunjukan Sudaryono menempatkan koordinasi pangan dan pelaksanaan MBG dalam perhatian yang lebih besar. Dengan latar belakangnya di Kementerian Pertanian, ia diharapkan dapat mengawal kebutuhan bahan baku sekaligus keberlanjutan program di bawah BGN.

Source: finance.detik.com
Terbaru