Pengungsi Afghanistan di Bamiyan Dapat Rumah Baru, Namun Masih Kekurangan Air dan Fasilitas Dasar

Banyak pengungsi Afghanistan yang baru kembali ke Bamiyan menghadapi berbagai kesulitan meskipun telah mendapatkan rumah baru. Mereka masih kekurangan layanan dasar seperti air bersih, akses pendidikan, dan fasilitas kesehatan yang memadai. Kondisi ini menimbulkan tantangan serius bagi mereka yang berharap dapat memulai kehidupan baru dengan lebih baik setelah pulang dari pengasingan.

Nimatullah Rahesh, salah satu pengungsi dari Bamiyan yang baru kembali, mengungkapkan rasa lega setelah menempati rumah baru yang dibangun dengan dukungan UNHCR di tanah yang disediakan oleh pemerintah Taliban. Namun, rumah tersebut tidak dilengkapi dengan air bersih maupun akses mudah ke fasilitas umum seperti sekolah atau rumah sakit. Ia bersama keluarga harus berjuang di tengah keterbatasan tersebut.

Kepemilikan Rumah dan Pekerjaan Warga
Setiap keluarga mendapatkan rumah seluas 50 meter persegi dan berhak atas tanahnya. Pembangunan rumah dilakukan oleh para penerima manfaat dengan bayaran dari UNHCR. Menurut Amaia Lezertua dari UNHCR, kepemilikan properti memberikan rasa aman dan stabilitas bagi para pengungsi. Namun, meskipun memiliki rumah sendiri, pekerjaan masih menjadi masalah besar.

Menurut data dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), hanya 11 persen orang dewasa yang menemukan pekerjaan penuh waktu setelah kembali ke Afghanistan. Banyak pengungsi, termasuk Rahesh, masih harus berjalan dua jam menuju jalan utama sebelum dapat menaiki kendaraan untuk bekerja.

Krisis Air Bersih dan Fasilitas Pendukung
Wilayah tempat rumah-rumah baru dibangun dikenal sebagai "Jar-e-Khushk" atau lereng kering. Saat ini belum tersedia pasokan air ledeng atau sumur di sana. Warga harus membeli air dari mobil tangki yang lewat setiap tiga hari sekali dengan harga lebih tinggi dibandingkan di Kabul. Kepala Kementerian Urusan Pengungsi dan Repatriasi setempat, Fazil Omar Rahmani, mengungkapkan bahwa ada rencana untuk memperluas jaringan air bersih, namun sementara ini keluarga harus mengatur sendiri kebutuhan air mereka.

Fasilitas sanitasi juga sangat minim. Rumah-rumah hanya dilengkapi dengan toilet dasar di luar yang tidak cukup untuk membangun kamar mandi atau shower. Desain rumah tersebut memang berasal dari otoritas lokal dan memungkinkan penghuni untuk menambah fasilitas sendiri sesuai kemampuan.

Akses Pendidikan dan Kesehatan yang Terbatas
Lokasi pemukiman yang jauh dari pusat kota Bamiyan menimbulkan kesulitan tambahan bagi para pengungsi. Arefa Ibrahimi, seorang ibu tunggal dengan empat anak, harus menempuh perjalanan sekitar empat kilometer ke sekolah terdekat. Ia mengkhawatirkan kondisi anak-anaknya, terutama saat musim dingin dan jadwal sekolah kembali dimulai.

Selain itu, belum ada jaringan telekomunikasi di kawasan ini. Rahesh menegaskan pentingnya perhatian terhadap kebutuhan dasar seperti air, sekolah, fasilitas kesehatan, dan sinyal ponsel agar komunitas ini dapat berkembang. Pihak kementerian mengatakan mereka mendapat perintah langsung dari pemimpin tertinggi untuk membangun fasilitas tersebut, tetapi belum ada jadwal pasti kapan proyek akan dimulai.

Harapan Meski Dalam Keterbatasan
Banyak pengungsi mengapresiasi kesempatan memiliki rumah sendiri setelah bertahun-tahun berada dalam ketidakpastian di luar negeri. Rumah-rumah baru memberi mereka harapan dan rasa aman meski harus menghadapi kekurangan yang signifikan. Dukungan berkelanjutan dari lembaga internasional dan pemerintah sangat penting agar mereka dapat beradaptasi dan membangun kembali kehidupan secara mandiri.

Situasi di Bamiyan mencerminkan tantangan besar yang dihadapi oleh jutaan pengungsi Afghanistan yang kembali saat negara mereka masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dan stabilitas. Pemenuhan kebutuhan dasar seperti air bersih, pendidikan, pekerjaan, dan layanan kesehatan menjadi kunci utama dalam proses pemulihan dan reintegrasi mereka ke masyarakat.

Terkait