Israel telah membuka kembali perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir secara terbatas. Pembukaan ini dilakukan sebagai bagian dari uji coba yang diumumkan oleh COGAT, badan militer Israel yang mengatur bantuan ke Gaza.
COGAT menyatakan bahwa pembukaan ini sesuai dengan kesepakatan gencatan senjata dan arahan dari pejabat politik. Perbatasan Rafah kini hanya diperuntukkan bagi penduduk Gaza yang membutuhkan akses keluar secara terbatas.
Persiapan dan Pemantauan Perbatasan Rafah
Tentara Israel telah menyelesaikan pembangunan fasilitas pemeriksaan yang kompleks di Rafah. Fasilitas ini akan digunakan untuk melakukan screening ketat bagi warga Palestina yang keluar masuk Gaza melalui titik perbatasan tersebut.
Setelah penutupan lama sejak Mei akibat konflik berdarah, pembukaan sebagian Rafah ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat Gaza. Namun, pembukaan ini masih dalam tahap awal dengan sistem pengawasan ketat.
Reaksi Masyarakat Gaza terhadap Pembukaan Perbatasan
Warga Gaza menghadapi dilema antara keinginan meninggalkan wilayah tersebut dan kekhawatiran sulitnya kembali. Banyak yang menyatakan bahwa alasan utama mereka pergi adalah untuk evakuasi medis dan pendidikan.
Diperkirakan sekitar 80.000 warga yang meninggalkan Gaza selama perang ingin kembali. Di samping itu, sekitar 22.000 pasien sakit dan luka-luka membutuhkan akses keluar untuk perawatan medis di luar Gaza.
Serangan Militer Israel yang Berlanjut
Meski pembukaan perbatasan Rafah berlangsung, serangan militer Israel di Gaza tetap berlanjut. Serangan drone terbaru menewaskan satu warga di wilayah barat laut Rafah.
Sebelumnya, serangan udara Israel menewaskan sedikitnya 31 orang di berbagai bagian Gaza, termasuk di daerah utara dan selatan. Sejak gencatan senjata yang didukung AS mulai berlaku, korban tewas mencapai lebih dari 511 orang Palestina.
Larangan Operasi MSF di Gaza oleh Pemerintah Israel
Selain pembatasan perbatasan, Israel memutuskan menghentikan operasi organisasi kemanusiaan Doctors Without Borders (MSF) di Gaza. Keputusan ini diambil karena MSF tidak menyerahkan daftar staf Palestina mereka sesuai aturan.
Keputusan ini mengikuti langkah pemerintah Israel yang melarang 37 organisasi bantuan lain beroperasi di Gaza sejak Maret nanti. Tindakan tersebut mendapat kritik luas dari berbagai lembaga PBB dan NGO internasional.
James Smith, dokter darurat, menilai keputusan ini merupakan bagian dari upaya Israel melemahkan sistem kesehatan Palestina secara sistematis. Ia menyatakan sudah lebih dari 1.700 tenaga kesehatan Palestina yang tewas sejak awal konflik, sehingga ketergantungan pada bantuan internasional makin besar.
Pembukaan parsial perbatasan Rafah menandai langkah awal yang sangat hati-hati dalam mengatasi krisis kemanusiaan di Gaza. Namun, kondisi keamanan dan keputusan politik yang kompleks masih membatasi mobilitas warga. Kebutuhan medis dan kepulangan pengungsi tetap menjadi fokus utama di tengah situasi konflik yang tidak kunjung usai.







