Rusia kembali melancarkan serangan drone dan rudal terbesar tahun ini ke Ukraina, tepat saat suhu terendah melanda ibu kota Kyiv. Serangan tersebut terjadi hanya sehari sebelum delegasi Ukraina dan Rusia dijadwalkan bertemu untuk putaran kedua pembicaraan damai di Abu Dhabi.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam tindakan Rusia yang memilih menyerang saat kondisi musim dingin paling parah, menyebutnya sebagai teror terhadap warga sipil dan penghalang diplomasi. Wartawan AFP melaporkan dentuman ledakan terdengar sepanjang malam di Kyiv, sementara ribuan penghuni gedung kehilangan pasokan pemanas di tengah temperatur mendekati minus 20 derajat Celsius.
Menurut Menteri Energi Denys Shmygal, serangan tersebut melibatkan berbagai jenis rudal balistik, rudal jelajah, dan drone serang yang menghantam gedung tinggi serta pembangkit listrik tenaga panas. Akibat serangan ini, ratusan ribu keluarga, termasuk anak-anak, dengan sengaja dibiarkan tanpa pemanas di tengah suhu beku terparah.
Angkatan Udara Ukraina mengungkapkan bahwa Rusia meluncurkan 71 rudal dan 450 drone serang, dengan Ukraina berhasil mencegat atau menghancurkan 38 rudal dan 412 drone. Meski begitu, lima orang terluka dan ribuan rumah mengalami pemadaman listrik di ibu kota.
Serangan itu juga melukai basis Patung Ibu Pertiwi yang ikonik dari era Soviet, simbol perjuangan melawan agresi pada abad ke-20. Menteri Kebudayaan Tetyana Berezhna menilai serangan tersebut sebagai tindakan simbolis dan sinis yang mengulang kejahatan masa lalu di masa kini.
Kota besar kedua Ukraina, Kharkiv, juga menjadi sasaran serangan yang menyebabkan pemadaman pemanas pada sekitar 100.000 pelanggan. Gubernur Kharkiv Oleg Synegubov mengatakan serangan ini dirancang untuk merusak infrastruktur energi secara maksimal dan meninggalkan kota tanpa pemanas dalam kondisi suhu sangat dingin.
Akibatnya, otoritas terpaksa mematikan pemanas di lebih dari 800 rumah untuk mencegah pembekuan jaringan yang lebih luas. Warga diimbau untuk mengunjungi titik-titik pemanasan yang tersedia selama 24 jam sebagai upaya bertahan dari suhu minus 23 derajat Celsius di wilayah tersebut.
Di tengah serangan dan dinginnya cuaca, pembicaraan damai yang difasilitasi Amerika Serikat tetap berlangsung di Abu Dhabi. Putaran pertama yang digelar sebelumnya gagal mencapai kesepakatan, tetapi putaran kedua yang akan dimulai berfokus pada masalah wilayah sengketa, terutama Donetsk di timur Ukraina.
Rusia menuntut kendali penuh atas wilayah Donetsk, sementara Ukraina menolak, menganggap pengakuan tersebut akan memperkuat posisi Moskow. Setelah gagal merebut Kyiv dengan cepat pada awal konflik, Rusia kini menjalankan serangan bertahap yang telah menelan korban jiwa besar dan berhasil menguasai hampir dua kali lipat wilayah pada Januari dibandingkan Desember.
Analisis dari Institute for the Study of War mencatat Rusia merebut sekitar 481 kilometer persegi di bulan lalu, angka tertinggi untuk bulan musim dingin selama empat tahun konflik ini berlangsung. Sementara itu, ketegangan dan peperangan masih membayangi kemungkinan tercapainya perdamaian di kedua belah pihak.





