Menteri Eswatini Dikritik Keras karena Ancaman Keluarkan Siswa LGBTQ dari Sekolah, Aktivis Desak Perlindungan Pendidikan

Kelompok hak asasi mengecam Menteri Pendidikan Eswatini, Owen Nxumalo, yang dikabarkan mengancam akan mengeluarkan siswa LGBTQ dari sekolah. Pernyataan tersebut menimbulkan kekhawatiran atas diskriminasi dan intimidasi di negara dengan sistem monarki absolut terakhir di Afrika ini.

Nxumalo menyatakan saat kunjungan ke beberapa sekolah bahwa ia tidak akan mentolerir hubungan sesama jenis di lingkungan pendidikan. Ia bahkan berjanji akan langsung mengunjungi sekolah-sekolah yang dilaporkan memiliki kasus tersebut dan memerintahkan kepala sekolah untuk mengeluarkan siswa yang terlibat.

Reaksi Kelompok Hak dan Organisasi Masyarakat Sipil

Eswatini Sexual and Gender Minorities (ESGM) menyatakan bahwa pernyataan menteri tersebut membuka pintu bagi bullying sekaligus memperparah krisis kesehatan mental di antara siswa. ESGM menegaskan bahwa prinsip kesetaraan harus dimulai dengan memberikan ruang aman di kelas untuk setiap anak tanpa diskriminasi.

Direktur eksekutif ESGM, Mphile Sihlongonyane, menyebutkan bahwa pertemuan darurat perlu diadakan guna menghindari kesalahpahaman yang dapat memicu stigmatisasi di sekolah-sekolah. Selain ESGM, jaringan organisasi non-pemerintah CANGO juga menuntut Menteri Pendidikan agar menarik ucapannya tersebut.

Tuntutan dari Organisasi Internasional

Amnesty International menegaskan bahwa kementerian pendidikan harus menjamin tidak ada siswa yang diusir atau mendapat sanksi lain berdasarkan orientasi seksual, identitas gender, ekspresi gender, maupun rumor dan stereotip yang tidak berdasar. Pernyataan ini menekankan pentingnya perlindungan hak pendidikan setiap anak, termasuk anak-anak LGBTQ.

Konteks Politik dan Sosial di Eswatini

Eswatini, sebuah negara kecil dengan populasi sekitar 1,3 juta jiwa, telah diperintah oleh Raja Mswati III sejak 1986. Kerajaan tersebut dikenal karena kritik atas gaya hidup mewah sang raja dan catatan pelanggaran hak asasi manusia yang berulang. Peraturan di Eswatini melarang hubungan sesama jenis, sehingga wacana tentang perlakuan terhadap siswa LGBTQ sangat sensitif.

Negara ini juga memiliki hubungan erat dengan Amerika Serikat dan pernah menjadi salah satu tujuan deportasi pria di bawah program deportasi pihak ketiga era pemerintahan Trump. Sejumlah pejabat penegak hukum memperkirakan lebih banyak individu dari program tersebut akan datang ke Eswatini dalam waktu dekat.

Dampak Potensial dari Ancaman Menteri Pendidikan

Ancaman pengusiran terhadap siswa LGBTQ dapat berdampak luas, seperti:

  1. Meningkatkan kasus bullying di sekolah
  2. Memperparah masalah kesehatan mental anak-anak yang terdiskriminasi
  3. Mendorong eksklusi sosial dan pendidikan bagi kelompok minoritas
  4. Merusak upaya perlindungan hak asasi anak yang dilakukan oleh berbagai organisasi
  5. Menghambat kemajuan inklusi dan kesetaraan di ranah pendidikan

Pernyataan Menteri Pendidikan Eswatini menimbulkan gelombang kritik dari berbagai lapisan masyarakat, baik dalam negeri maupun internasional. Isu ini sangat penting untuk terus dipantau mengingat dampaknya pada hak pendidikan dan perlindungan anak-anak yang rentan diskriminasi di sekolah.

Terkait