Presiden Kolombia, Gustavo Petro, mengekstradisi seorang bandar narkoba ke Amerika Serikat pada Selasa pagi, hanya beberapa jam sebelum pertemuannya dengan Presiden Donald Trump di Gedung Putih. Ekstradisi ini dilakukan setelah tekanan dari AS untuk melanjutkan pengiriman para pemimpin kriminal yang sempat tertunda akibat proses negosiasi damai yang mandek dengan kelompok bersenjata di Kolombia.
Menteri Pertahanan Kolombia, Pedro Sanchez, mengatakan bahwa Petro memberikan perintah tegas pada akhir pekan sebelumnya agar kriminal yang dikenal dengan nama alias Pipe Tulua segera diekstradisi ke AS. Sanchez turut mendampingi Petro dalam kunjungan ke Washington yang menjadi pertemuan tatap muka pertama antara kedua presiden tersebut.
Pengiriman Pipe Tulua dilakukan dengan pengamanan ketat di Bandara Bogotá. Bandar narkoba itu mengenakan helm dan rompi anti peluru saat diterbangkan menggunakan jet eksekutif dari sebuah pangkalan militer. Sekitar 70 petugas berseragam diterjunkan untuk mengawal proses pemindahan tersangka, seperti yang diungkapkan Kolonel Polisi Elver Sanabria.
Pertemuan yang telah lama dinantikan antara Trump dan Petro terjadi di tengah ketegangan yang sempat memuncak melalui serangkaian kecaman di media sosial. Ketegangan ini berujung pada sanksi yang dijatuhkan AS terhadap Petro dan keluarganya atas tuduhan keterlibatan dalam perdagangan narkoba.
Sebagai langkah diplomatik, Kolombia secara mendadak menerima penerbangan deportasi dari AS pada hari Jumat sebelumnya. Langkah ini dianggap sebagai isyarat perdamaian dan penawaran kompromi kepada pemerintahan Trump menjelang pertemuan penting di Gedung Putih.
Berikut beberapa fakta kunci terkait ekstradisi dan pertemuan kedua pemimpin:
1. Ekstradisi diinisiasi sebagai bagian dari komitmen anti-narkoba Kolombia kepada AS setelah jeda panjang.
2. Pipe Tulua adalah figur utama dalam jaringan narkotika yang terus diburu oleh otoritas internasional.
3. Ekstradisi diiringi pengamanan ketat dengan kehadiran puluhan petugas kepolisian bersenjata lengkap.
4. Pertemuan Petro-Trump menjadi momentum strategis setelah periode ketegangan diplomatik.
5. Langkah ekstradisi dipandang sebagai sinyal positif untuk memperbaiki hubungan bilateral dua negara.
Langkah ekstradisi ini menunjukkan upaya pemerintah Kolombia untuk memenuhi tuntutan AS dan membangun kembali kepercayaan serta kerjasama dalam perang melawan narkoba. Pemindahan bandar narkoba kelas kakap ini juga mencerminkan keseriusan Petro dalam menindak kejahatan lintas negara tetap berlanjut meski ada hambatan politik di dalam negeri.
