Hubungan antara Lebanon dan Suriah menunjukkan perubahan positif yang dramatis pasca kejatuhan rezim Bashar Assad. Wakil Perdana Menteri Lebanon, Tarek Mitri, menegaskan bahwa kini Suriah tidak lagi mencampuri urusan dalam negeri Lebanon seperti masa lalu.
Sebelumnya, Lebanon berada di bawah pengaruh kuat Suriah selama bertahun-tahun. Mitri menjelaskan, pemerintahan Suriah masa kini tidak memiliki minat untuk mendominasi Lebanon atau ikut campur dalam kebijakan domestiknya.
Perjanjian Pemindahan Narapidana
Baru-baru ini, kabinet Lebanon menyetujui sebuah perjanjian dengan Suriah yang memungkinkan lebih dari 300 tahanan yang menjalani hukuman di Lebanon akan dipindahkan untuk menyelesaikan masa tahanan mereka di Suriah. Proses pemindahan ini diperkirakan akan dimulai dalam beberapa minggu ke depan.
Sebagian besar tahanan tersebut tidak terlibat dalam kejahatan berat. Mereka dengan vonis kejahatan seperti pembunuhan dan penyerangan terhadap tentara Lebanon hanya bisa dipindahkan jika sudah menjalani hukuman minimal 7,5 tahun di Lebanon. Selain itu, perjanjian lain juga sedang dirancang untuk memindahkan tahanan Suriah yang masih menunggu proses pengadilan.
Sejarah Komplikasi dan Upaya Rekonsiliasi
Lebanon dan Suriah memiliki sejarah rumit dengan banyak rasa tidak puas on masing-masing pihak. Lebanon masih menyimpan luka akibat pendudukan Suriah selama puluhan tahun hingga tahun 2005. Sementara itu, Suriah menaruh dendam terhadap keterlibatan kelompok militan Lebanon, Hezbollah, dalam perang saudara Suriah.
Kini kedua negara membentuk kelompok kerja untuk menyelidiki nasib warga yang hilang di kedua negara selama era Assad. Banyak dari warga Lebanon yang hilang tersebut diyakini meninggal dunia saat dalam tahanan Suriah.
Situasi Politik dan Keamanan Pasca Assad
Sejak kejatuhan Assad dalam serangan mendadak oleh kelompok pemberontak Islam pada akhir tahun lalu, muncul laporan bahwa beberapa pejabat rezim lama yang berlindung di Lebanon merencanakan serangan terhadap pemerintahan baru. Namun, Mitri menegaskan tidak terdapat bukti pengorganisasian militer yang signifikan dari mereka di Lebanon.
Pihak keamanan Lebanon juga telah melakukan pemeriksaan ketat terhadap kemungkinan aktivitas subversif. Hingga kini tidak ditemukan bukti yang mendukung adanya jaringan militer yang aktif dari mantan anggota militer Suriah di wilayah Lebanon.
Ketegangan dengan Israel dan Penanganan Hezbollah
Hubungan Lebanon dengan Israel tetap menjadi tantangan lebih besar dibandingkan hubungan dengan Suriah. Meski ada gencatan senjata yang dimediasi AS antara Israel dan Hezbollah, Israel masih melancarkan serangan di wilayah Lebanon hampir setiap hari.
Tentara Lebanon baru saja menyelesaikan fase pertama rencana pelucutan senjata kelompok non-negara termasuk Hezbollah di selatan Sungai Litani. Rencana lanjutan akan mencakup wilayah utara sungai dan akan segera diumumkan.
Hezbollah menegaskan hanya akan menyelesaikan kehadiran militernya di selatan Litani sesuai perjanjian gencatan senjata dan enggan berdiskusi mengenai pelucutan senjata di wilayah lain sebelum serangan Israel benar-benar berhenti. Wakil PM Mitri menyatakan pelaksanaan rencana pelucutan senjata tidak bergantung pada pemerintah Israel, meskipun aktivitas militer Israel mempersulit tugas militer Lebanon.
Masa Depan Pasukan Perdamaian Internasional
Diskusi terkait kemungkinan negosiasi politik dan normalisasi hubungan antara Lebanon dan Israel masih terbatas pada komite pemantau gencatan senjata yang melibatkan Amerika Serikat, Prancis, dan pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL).
Mitri menegaskan, negosiasi lanjutan hanya bisa dilanjutkan jika semua kesepakatan gencatan senjata dipatuhi, termasuk penarikan pasukan Israel dan pembebasan tahanan Lebanon di Israel. Proses penentuan batas wilayah darat antar kedua negara juga baru akan dibahas setelah pelaksanaan lengkap perjanjian ini.
Mandat UNIFIL yang akan berakhir pada akhir tahun ini memunculkan diskusi mengenai pengganti pasukan penjaga perdamaian tersebut. Lebanon menginginkan pasukan pengganti yang netral dan memiliki mandat internasional yang kuat untuk memastikan pelaksanaan kesepakatan dan mendokumentasikan pelanggaran.
Pemulihan hubungan bilateral Lebanon-Suriah menandai lompatan besar dari masa silam yang penuh ketegangan. Upaya pemindahan tahanan, investigasi kasus hilangnya warga, dan pembicaraan terkait keamanan menegaskan niat kedua negara untuk membangun kerja sama yang lebih stabil dan konstruktif. Namun, dinamika keamanan regional, terutama terkait Israel dan situasi di perbatasan, tetap menjadi tantangan serius bagi perdamaian dan stabilitas jangka panjang Lebanon.





