UNESCO baru saja mengakui gaya seni miniatur Kamal ud-Din Behzad, pelukis terkenal abad ke-15 dari Herat, Afghanistan, sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Pengakuan ini menjadi sumber harapan bagi para seniman di kota tersebut yang kini menghadapi berbagai tantangan berat.
Mohammad Younes Qane, salah satu seniman miniatur di Herat, merasa bahagia dengan pengakuan UNESCO itu. Ia mengungkapkan, saat melukis, ia seakan kembali ke masa 500 tahun lalu ketika Behzad hidup dan berkarya di bawah patronase kerajaan Timurid.
Behzad dikenal sebagai pelukis sezaman dengan Leonardo da Vinci dan Sandro Botticelli, serta pernah menetap di Tabriz, wilayah yang kini masuk ke Iran. Pola karya miniatur yang diciptakannya dikenal dengan detail halus seperti rambut kuda dan manik-manik, yang bahkan menginspirasi seniman Prancis Henri Matisse.
Pengakuan UNESCO pada bulan Desember lalu memberikan semangat baru di tengah kondisi sulit yang melanda Afghanistan. Setelah Taliban kembali berkuasa dan menerapkan aturan Islam yang ketat, banyak seniman meninggalkan negara itu. Qane terpaksa menutup galeri dan kini hanya bisa bekerja dari rumah dengan sedikit pelanggan.
Pembatasan ketat Taliban juga melarang musik di ruang publik dan penggambaran makhluk hidup, termasuk wajah manusia dalam lukisan. Padahal, wajah manusia merupakan elemen penting dalam seni Behzad. Larangan ini membuat banyak warga Herat merasa sedih karena mereka sangat bangga pada warisan Behzad.
Ahmad Jawid Zargham, mantan kepala dinas seni dan budaya provinsi, menyatakan karya Behzad membawa nyawa baru pada seni lukis yang sebelumnya dianggap “sederhana dan tanpa jiwa”. Behzad memperlihatkan adegan kehidupan sehari-hari masyarakat, mulai dari pekerja, guru, hingga pengemis, dalam karya-karyanya.
Di masjid utama Herat, mozaik biru menampilkan motif bunga dan geometris yang terinspirasi oleh Behzad. Namun, manuskrip dan karya aslinya disimpan di institusi-institusi besar dunia seperti Metropolitan Museum of Art di New York, British Library di London, dan Topkapi Palace Museum di Istanbul.
Michael Barry, pakar miniatur ternama, mengkritik kurangnya akses masyarakat Afghanistan terhadap warisan budaya mereka sendiri. Ia juga menyadari kesulitan menjaga karya halus itu agar tidak rusak karena paparan cahaya. Sebagai solusi, Barry memperbesar dan memamerkan reproduksi karya Behzad pada pameran di benteng Herat tahun 2017.
Sayangnya, benteng tersebut kini ditutup dan pintunya terkunci. Wajah-wajah yang ada di panel sejarah kota pun telah dicat hitam oleh aparat setempat. Hal ini mencerminkan tekanan ketat terhadap ekspresi seni figuratif.
Meski begitu, semangat seni miniatur tetap hidup di kalangan muda Herat. Sekelompok wanita berlatih melukis miniatur di sebuah bengkel, menjual hasil karya mereka lewat media sosial dan jaringan lokal. Bagi mereka, pengakuan UNESCO adalah sumber motivasi untuk terus berkarya meski akses pendidikan dan peluang di luar negeri semakin terbatas.
Parisa Narwan mengatakan, seniman Afghanistan sangat membutuhkan kesempatan pameran internasional dan dukungan finansial. Seorang seniman lain berpendapat jika Behzad hidup saat ini, ia pasti akan meminta perubahan untuk memperbaiki kehidupan perempuan yang semakin sulit di Afghanistan.
Saat ini, anak perempuan dilarang sekolah setelah usia 12 tahun dan perempuan dibatasi akses kerja. Asia Arnawaz, 22 tahun, menyebut kegiatan melukis miniatur sebagai terapi yang memberinya perasaan kebebasan. Ia merasa melalui seni, ia dapat merasakan ciptaan Allah yang suci dan memperoleh kebebasan batin meski lingkungan sekitar penuh pembatasan.
Pengakuan UNESCO terhadap seni miniatur Behzad bukan hanya pengakuan atas warisan budaya yang berharga. Ini juga mempertegas peran seni dalam menjaga harapan dan identitas masyarakat Herat di tengah kondisi yang penuh tantangan serta pembatasan sosial.







