Bocoran Dokumen Rahasia Ungkap Rencana Khamenei Gunakan Kekerasan Mematikan untuk Bekuk Protes Iran

Dokumen rahasia dari rezim Iran mengungkap rencana terkoordinasi guna menindas demonstrasi nasional secara brutal. Strategi ini disetujui langsung oleh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang melibatkan penggunaan kekerasan, pengawasan ketat, dan pemutusan akses internet.

Strategi tersebut dikembangkan oleh Dewan Keamanan Nasional Iran setelah gelombang protes besar 2019, yang dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar dan krisis ekonomi. Dokumen yang berstatus “sangat rahasia” ini menunjukkan bagaimana pihak keamanan menetapkan berbagai tahap eskalasi dalam menghadapi kerusuhan.

Rencana Pengendalian Unjuk Rasa Berjenjang

Dalam dokumen tertanggal awal Maret 2021, terdapat empat level kondisi keamanan dengan otoritas komando yang berbeda-beda. Pada tahap awal, pasukan kepolisian nasional menjadi pemimpin pengendalian dengan dukungan dari Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) dan Kementerian Intelijen.

Saat situasi berubah menjadi lebih parah, kewenangan penuh dialihkan kepada IRGC sebagai badan utama dengan otoritas penuh untuk menghadapi unjuk rasa bersenjata. Khamenei memerintahkan agar rencana ini diterapkan secara nasional selama dua tahun ke depan.

Pelaksanaan Rencana Dalam Protes 2026

Blueprint tersebut menjadi pedoman utama rezim dalam menumpas gelombang protes yang meletus pada Januari 2026. Protes ini lahir dari kemarahan publik akibat inflasi yang melonjak dan keruntuhan mata uang, ditambah kebencian terhadap pemerintah clerical.

Menurut laporan Aktivis Hak Asasi Manusia di Iran (HRANA), sedikitnya 6.854 orang tewas dalam protes tersebut, dan 11.280 kasus masih dalam penyelidikan. Evaluasi internal mencatat tiga fase utama: penegakan hukum, situasi keamanan tanpa senjata, dan akhirnya eskalasi menjadi situasi keamanan bersenjata pada 8 Januari, saat IRGC mengambil alih komando penuh.

Dalam fase bersenjata ini, IRGC menerima dukungan dari lembaga keamanan lainnya. Kementerian Komunikasi juga diperintahkan untuk memberlakukan pembatasan internet, termasuk pemutusan total layanan jaringan demi membatasi komunikasi pengunjuk rasa.

Rincian Pengawasan dan Represi Mendalam

Dokumen rahasia lainnya dari tahun 2024 yang disusun oleh markas Sarallah IRGC mengungkap bagaimana rezim melakukan pengawasan intensif. Mereka menargetkan anggota oposisi, khususnya organisasi MEK dan keluarga korban pembunuhan rezim, sebagai musuh utama yang harus dimonitor dan dikendalikan secara ketat.

Dokumen sepanjang 129 halaman tersebut memerinci langkah-langkah penindasan yang mencakup identifikasi dan pengawasan level satu terhadap para lawan politik negara. Strategi ini menunjukkan sejauh mana rezim siap menindak dengan kekerasan hingga ribuan korban jatuh, seperti yang terjadi pada Januari 2026.

Dampak dan Reaksi Publik

Meski rezim menggunakan kekerasan mematikan, tindakan tersebut justru memperkuat tekad rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintah. Alireza Jafarzadeh, wakil direktur kantor Washington dari Dewan Nasional Perlawanan Iran, menyatakan bahwa pembunuhan massal malah mendorong lebih banyak pemuda bergabung dalam perlawanan terorganisir melawan IRGC.

Protes yang terus meluas menjadi bukti bahwa strategi brutal rezim tidak mampu memadamkan semangat rakyat. Sebaliknya, ketegangan politik dan sosial di Iran terus meningkat seiring dukungan publik terhadap perlawanan.

Tanggapan Internasional

Sebagai respons atas pelanggaran HAM dan penindasan brutal tersebut, sejumlah pejabat internasional, termasuk Senator Marco Rubio, mencabut hak perjalanan sejumlah pejabat Iran. Langkah ini merupakan bagian dari tekanan global untuk menuntut pertanggungjawaban rezim atas pembunuhan ribuan pengunjuk rasa.

Menggunakan dokumen bocoran sebagai bukti autentik, para aktivis dan pengamat menilai bahwa rezim Iran menghabiskan sumber daya besar untuk mempertahankan kekuasaan dengan cara kekerasan dan penindasan sistematis.

Rangkaian dokumen rahasia ini memberikan gambaran mendalam dan jelas tentang bagaimana rezim Khamenei telah menyiapkan dan melaksanakan strategi kematian demi membungkam suara protes. Semua bukti yang ada memperkuat narasi bahwa kekuasaan di Iran masih bertahan dengan mengorbankan banyak nyawa dan kebebasan warganya.

Terkait