Kelaparan semakin mengancam wilayah Darfur di Sudan barat yang hancur akibat perang. Sebuah kelompok pemantau kelaparan global melaporkan bahwa malnutrisi akut kini telah mencapai tingkat kelaparan di dua kota tambahan di Darfur.
Situasi kemanusiaan di Sudan memburuk setelah konflik antara militer dan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) meletus sejak April. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (IPC) menyatakan, kota Umm Baru dan Kernoi di Darfur utara kini menghadapi malnutrisi akut yang hampir dua kali lipat ambang tingkat kelaparan.
Di Umm Baru, sekitar 53% anak-anak usia 6 bulan hingga hampir 5 tahun mengalami malnutrisi. Sementara di Kernoi, angka malnutrisi mencapai 32%, kondisi yang mengkhawatirkan bagi kesehatan dan kelangsungan hidup anak-anak setempat.
Meskipun IPC belum mengonfirmasi kelaparan penuh di kedua wilayah itu karena keterbatasan akses data dan kondisi lapangan, tingkat malnutrisi tersebut memperingatkan risiko kematian yang meningkat drastis. Laporan memperingatkan kondisi serupa mungkin terjadi di daerah-daerah sekitar yang terkena dampak perang.
Darfur pernah mengalami kelaparan pada tahun sebelumnya, terutama di kota besar el-Fasher yang dikuasai RSF setelah dikepung selama 18 bulan. Penaklukan el-Fasher memicu pengungsian besar-besaran ke kota-kota di sekitarnya, memperparah ketidakamanan pangan di kawasan tersebut.
Selain Darfur, wilayah pegunungan Nuba dan beberapa wilayah Kordofan juga mengalami dampak perang yang mengganggu produksi pangan dan rantai pasok makanan. Kondisi ini memicu ancaman kelaparan yang meluas di Sudan barat dan selatan.
Dalam serangan terbaru, pasukan paramiliter menyerang rumah sakit militer di Kouik, Provinsi Kordofan Selatan, menewaskan 22 orang termasuk direktur rumah sakit dan tiga staf medis. Serangan tersebut juga melukai delapan orang lainnya, menurut Sudan Doctors’ Network.
Serangan ini bukan kasus tunggal, melainkan bagian dari serangkaian serangan yang membuat beberapa rumah sakit di wilayah itu tidak bisa beroperasi. Gangguan layanan kesehatan ini memperparah krisis kemanusiaan di Sudan selatan.
Perang di Sudan telah menewaskan lebih dari 40.000 orang dan menyebabkan pengungsian lebih dari 14 juta penduduk. Jumlah korban tewas sebenarnya diperkirakan jauh lebih tinggi oleh organisasi bantuan kemanusiaan.
Konflik juga melanda kota Kadugli dan Dilling di Kordofan Selatan, yang sempat mengalami pengepungan selama berbulan-bulan. Militer Sudan baru-baru ini berhasil membuka jalur transportasi penting yang menghubungkan kedua kota tersebut setelah melawan RSF.
Upaya internasional mulai meningkat untuk meredakan krisis kemanusiaan di Sudan. PBB bersama Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab memulai dana kemanusiaan yang bernilai 700 juta dollar, dengan AS menyumbangkan 200 juta dollar dan UEA 500 juta dollar.
Kelaparan dinilai tercapai jika angka kematian akibat malnutrisi mencapai minimal dua orang per 10.000 penduduk per hari. Selain itu, lebih dari 20% populasi harus mengalami kekurangan pangan yang parah dan sekitar 30% anak di bawah usia lima tahun menderita malnutrisi akut.
Kelangsungan konflik dapat memperburuk kondisi kelaparan yang sudah kritis. Oleh sebab itu, gencatan senjata yang berkepanjangan sangat diperlukan untuk mencegah kematian massal dan memastikan penyaluran bantuan pangan dan medis kepada warga yang terdampak.
Kondisi di Sudan seringkali sulit dipantau karena kendala akses dan gangguan keamanan. Hal ini membuat pengumpulan data yang akurat menjadi tantangan besar bagi lembaga kemanusiaan dan pemantau kelaparan di lapangan.
Situasi ini menuntut perhatian dan tindakan cepat dari komunitas internasional agar penderitaan rakyat Sudan yang sudah terjebak dalam perang dan kelaparan bisa segera diatasi dan dipulihkan.





