China Tampil Dominan di Singapore Airshow, Perkuat Pengaruh saat AS Terisolasi di Asia Tenggara

China menunjukkan kekuatan militernya secara mencolok pada Singapore Airshow kali ini. Langkah tersebut menarik perhatian besar dari delegasi kawasan Asia Tenggara. Di saat yang sama, Amerika Serikat tampak semakin terisolasi dalam pengaruhnya di kawasan tersebut.

Militer AS menampilkan kekuatan melalui operasi presisi dan peningkatan armada di berbagai wilayah. Namun, kebijakan kontroversial Presiden Trump yang menangguhkan beberapa aliansi dan mengenakan tarif atas sekutu justru membuka peluang bagi China mengukuhkan pengaruhnya.

Pertunjukan Udara dan Pesawat Tempur China

Tim akrobatik Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) memperkenalkan pesawat tempur Chengdu J-10C dalam debut mengesankan. Pesawat varian ekspor J-10CE pernah mencuri perhatian internasional setelah Pakistan berhasil menumbangkan jet Rafale India dengan pesawat tersebut pada 2025.

Menurut Tim Robinson, editor majalah Aerospace Royal Aeronautical Society, penggunaan pengisian bahan bakar di udara oleh tim ini menegaskan kemampuan proyeksi kekuatan yang semakin meningkat. Sebelumnya, kemampuan ini dianggap sebagai kelemahan bagi angkatan udara China.

Di area pameran, perusahaan negara China menempatkan display utama berupa model setengah skala J-35A stealth multirole fighter. Pesawat yang pertama kali terlihat secara domestik di 2024 ini dikabarkan sebagai alternatif bagi negara yang tidak dapat membeli pesawat F-35 dari AS.

Ketertarikan Asia Tenggara terhadap Peralatan Militer China

Delegasi pertahanan Asia Tenggara terlihat sangat antusias di stan-stan militer dan kedirgantaraan China. Ketertarikan ini muncul di tengah kecemasan negara-negara tersebut terhadap komitmen keamanan AS yang dinilai semakin goyah akibat kebijakan isolasionis.

Seorang pejabat perusahaan senjata Barat menyatakan bahwa meskipun delegasi yang hadir masih sama, intensitas dan sifat diskusi telah berubah signifikan. Hal ini menggambarkan pergeseran geopolitik dan upaya diversifikasi rantai pasokan perlengkapan militer.

Bradley Perrett, ahli pertahanan China, mengungkapkan bahwa perusahaan senjata China melihat peluang akibat berkurangnya kepercayaan negara pembeli dalam membeli produk AS. Namun, banyak pelanggan AS yang juga mempertimbangkan produk dari Eropa, Korea Selatan, dan Jepang sebagai alternatif.

Pengeluaran militer di Asia terus meningkat rivalitas regional semakin tajam. Hal ini beriringan dengan kebangkitan dan modernisasi militer yang agresif dari China.

Dorongan China di Pasar Penerbangan Niaga

Di sektor penerbangan komersial, China masih berjuang menembus pasar global yang didominasi Airbus dan Boeing. Salah satu kendala utama adalah proses sertifikasi panjang dari otoritas Eropa.

Namun, produsen pesawat milik negara COMAC kembali menampilkan pesawat C919 narrowbody dan mempromosikan model pesawat wide-body masa depan, C929. Proyek yang awalnya direncanakan bersama Rusia kini dipimpin penuh oleh China dan memasuki tahap desain rinci.

COMAC fokus menawarkan produknya ke pasar Asia Tenggara, dengan delegasi dari Indonesia termasuk yang menunjukkan minat. Upaya ini menjadi prioritas nasional bagi China meskipun para analis Barat memperkirakan butuh waktu bertahun-tahun bahkan dekade untuk bersaing secara global.

Pasar suku cadang pihak ketiga juga menjadi target China dalam pameran ini. Hal ini menanggapi kekhawatiran industri penerbangan global terkait kelangkaan pasokan di tengah tekanan rantai distribusi.

Langkah ini menegaskan ambisi China tidak hanya memperkuat kehadirannya di militer tapi juga di sektor komersial. Strategi ini semakin memperkuat posisi China sebagai pesaing utama di kawasan Asia Tenggara dan global.

Terkait