Rigo Mendoza mengalami duka mendalam setelah putranya, Kevin, meninggal dunia dua hari pasca penahanan istrinya oleh US Immigration and Customs Enforcement (ICE). Kevin, seorang remaja berusia 15 tahun yang didiagnosis kanker pada November, sangat cemas akan keselamatan ayahnya setelah sang ibu ditangkap. Rasa takut dan stres yang dirasakan Kevin diyakini memengaruhi kondisi kesehatannya secara signifikan.
Arlith Martínez, istri Mendoza dan juga imigran tanpa dokumen asal Meksiko, ditahan saat menuju tempat kerja di Maryland. Meskipun memiliki catatan pelanggaran lalu lintas ringan, dia tidak pernah memiliki rekam kriminal serius. Namun, dalam penahanan itu, Martínez diperlakukan seolah seorang kriminal berat, sebuah pengalaman yang menambah trauma keluarga ini.
Kondisi Kesehatan Kevin yang Memburuk
Kevin mulai merasakan sakit lutut sebelum akhirnya didiagnosis terkena kanker di sebuah rumah sakit di Baltimore. Setelah diagnosis itu, Mendoza berhenti bekerja agar bisa fokus merawat Kevin, sementara Martínez tetap bekerja untuk menopang keluarga. Para dokter menjanjikan perlawanan yang mungkin dimenangkan Kevin, namun keluarga tidak mengetahui secara detil jenis kanker yang diderita.
Setelah penangkapan Martínez, keadaan Kevin memburuk secara drastis. Pada malam berita itu tersebar, Kevin mengalami keringat dingin dan harus dilarikan ke rumah sakit. Upaya pemindahan dengan helikopter gagal karena kondisinya yang kritis. Pada akhirnya, Kevin meninggal dunia pada 5 Januari.
Penanganan dan Pengaruh Penahanan Terhadap Proses Pemakaman
Setelah kematian Kevin, Mendoza mengajukan permintaan kepada otoritas federal agar istrinya bisa menghadiri pemakaman. Tawaran yang diberikan hanya membolehkan Martínez keluar selama dua jam ditolak oleh keluarga, karena dianggap tidak layak bagi kondisi mental keluarga dan anak-anak mereka. Pemakaman akhirnya ditunda hingga akhir bulan.
ICE mengonfirmasi bahwa Martínez telah mengalami deportasi sebanyak tiga kali dan saat ini menunggu proses deportasi berikutnya. Pada akhirnya, Martínez dibebaskan dengan jaminan sebesar $12.000 dan menggunakan perangkat pelacak elektronik di pergelangan kakinya. Ia menghadiri pemakaman secara pribadi minggu berikutnya.
Keputusan Sulit untuk Kembali ke Meksiko
Pasca peristiwa ini, Mendoza dan Martínez memutuskan untuk kembali ke Meksiko bersama tiga anak mereka yang masih hidup. Mereka pun membawa jasad Kevin untuk dimakamkan di tanah asal keluarga. Pemerintah Meksiko, melalui kedutaan di Washington, memberikan dukungan legal bagi Martínez dan bantuan keuangan untuk pemulangan keluarga serta pengurusan jasad Kevin.
Mendoza mengungkapkan bahwa mimpi pulang ke kampung halaman tak pernah terbayangkan akan terjadi dalam kondisi sedih seperti ini. Ia berharap suatu saat bisa berziarah ke makam Kevin dengan tenang di Meksiko.
Proses Hukum dan Dukungan untuk Keluarga
Pengacara Martinez menyatakan bahwa saat ini fokus mereka adalah memenuhi perintah pengadilan dan mengatur persidangan deportasi yang akan datang. Martínez bisa mengajukan permohonan pembatalan deportasi meskipun opsi utama yang tersedia adalah permintaan keberangkatan sukarela.
Dalam situasi imigrasi yang semakin ketat di bawah kebijakan pemerintahan sebelumnya, Mendoza menegaskan bahwa banyak keluarga lain yang turut mengalami penderitaan. Kepedulian Mendoza kini tertuju pada ketiga anaknya yang masih hidup, yang sangat mencintai Kevin dan berusaha diberikan dukungan agar tetap kuat menghadapi kehilangan besar ini.
Fakta Penting Mengenai Kasus Rigo Mendoza dan Keluarganya:
- Kevin Mendoza meninggal dua hari setelah penahanan ibunya oleh ICE.
- Kevin didiagnosis kanker setelah merasakan nyeri lutut.
- Arlith Martínez memiliki catatan pelanggaran lalu lintas, tanpa rekam kriminal berat.
- Martínez ditahan dan dibebaskan dengan jaminan serta memakai alat pelacak elektronik.
- Keluarga memutuskan kembali ke Meksiko membawa tiga anak dan jasad Kevin.
- Pemerintah Meksiko mendukung proses hukum dan repatriasi keluarga.
- Masa depan hukum Martínez masih menunggu persidangan deportasi.
Cerita ini menggambarkan bagaimana kebijakan imigrasi yang ketat berdampak pada kehidupan keluarga imigran dan memunculkan dilema kemanusiaan yang sulit dihadapi. Keputusan untuk meninggalkan AS merupakan langkah terakhir dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan dan kehilangan besar.







