Seorang jenderal tinggi militer Rusia yang menjabat sebagai wakil kepala intelijen militer Rusia tertembak dan mengalami luka serius di Moscow. Kejadian ini terjadi di sebuah gedung tempat tinggal di Volokolamskoye Highway saat seorang pelaku melepaskan beberapa tembakan sebelum melarikan diri.
Menurut sumber medis yang dikutip oleh kantor berita negara TASS, jenderal tersebut kini sudah sadar setelah menjalani operasi dan kondisinya dinyatakan stabil. Pejabat dari Komite Investigasi Rusia mengonfirmasi bahwa kasus percobaan pembunuhan terhadap pejabat tinggi Kementerian Pertahanan telah dibuka.
Pelaku penembakan telah ditangkap di Dubai dengan bantuan aparat Uni Emirat Arab, menurut pernyataan dari Badan Keamanan Federal Rusia (FSB). Pelaku utama diidentifikasi sebagai Lyubomir Korba, seorang warga negara Rusia berusia sekitar 60-an. Dua tersangka lain, juga warga Rusia, terlibat sebagai kaki tangan; satu ditangkap di Moscow dan satu lagi dilaporkan telah melarikan diri ke Ukraina.
Jenderal Vladimir Alekseyev, korban penembakan, adalah wakil kepala pertama Direktorat Utama Intelijen Militer Rusia (GRU). Dia termasuk dalam daftar pejabat GRU yang dikenai sanksi oleh Amerika Serikat sejak 2016 atas aktivitas siber yang merusak proses demokrasi AS. Uni Eropa juga menyanksinya pada 2019 terkait serangan dengan agen saraf Novichok di Salisbury, Inggris.
Alekseyev diketahui berperan penting dalam operasi militer Rusia di Ukraina. Dia pernah menjadi negosiator dalam perundingan rahasia dengan anggota parlemen Ukraina untuk mengakhiri pengepungan kota strategis Mariupol tahun 2022. Selain itu, intelijen Ukraina menuduhnya bertanggung jawab atas persiapan data serangan rudal dan udara di wilayah Ukraina, termasuk terhadap sasaran sipil dan referenda ilegal di wilayah pendudukan.
Seorang tetangga Alekseyev melaporkan bahwa dia mendengar suara tembakan sekitar pukul 6:30 pagi waktu setempat. Polisi segera tiba di lokasi dan melakukan penyelidikan. Belakangan, serangkaian serangan terhadap pejabat tinggi Rusia di Moscow memang meningkat sejak invasi penuh Rusia ke Ukraina dimulai. Banyak insiden sebelumnya melibatkan ledakan atau pembunuhan yang dituding dilakukan oleh dinas keamanan Ukraina.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa badan intelijen tengah menyelidiki serangan tersebut dan akan melaporkan hasilnya langsung kepada Presiden Vladimir Putin. Ia juga menyebut bahwa para pemimpin militer dan spesialis terbaik berisiko tinggi selama masa perang, sehingga keamanan mereka menjadi tanggung jawab utama badan intelijen Rusia.
Insiden ini terjadi di tengah putaran perundingan trilateral yang berlangsung di Uni Emirat Arab antara Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat. Delegasi Rusia dipimpin oleh kepala intelijen militer Igor Kostyukov. Pertemuan tersebut digambarkan sebagai “konstruktif namun menantang” oleh Kremlin, sementara Ukraina menganggapnya sebagai langkah positif untuk kelanjutan dialog damai.
Pada saat yang sama, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyetujui penjualan suku cadang senilai 185 juta dolar AS untuk kendaraan dan sistem senjata yang diberikan kepada Ukraina. Penambahan dukungan militer ini menandai dinamika kompleks antara usaha diplomasi dan eskalasi konflik yang sedang berlangsung.
Dengan fokus intens pada keamanan pejabat tinggi militer dan aktivitas intelijen, situasi di ibu kota Rusia tetap tegang. Penembakan terhadap Jenderal Alekseyev menambah daftar peristiwa kekerasan yang berdampak pada struktur pengambil keputusan militer Rusia selama perang yang belum usai di Ukraina.







