Kisah Seram dan Trauma Warga Kenya yang Dipaksa Direkrut Rusia untuk Perang di Ukraina

Ratusan warga Kenya menjadi korban penipuan yang membawa mereka ke medan perang di Ukraina secara paksa. Mereka direkrut melalui agen tenaga kerja di Nairobi dengan janji pekerjaan bergaji tinggi di Rusia. Victor, Mark, Erik, dan Moses adalah beberapa korban yang berbagi kisahnya tentang trauma dan keterpaksaan ini.

Semua awalnya dijanjikan pekerjaan sebagai salesman, keamanan, dan atlet olahraga profesional dengan penghasilan antara $1.000 hingga $3.000 per bulan. Namun, kedatangan mereka di Rusia justru diwarnai ancaman dan pemaksaan agar menandatangani kontrak militer dalam bahasa Rusia yang tak dimengerti.

Jebakan Kontrak Militer dan Ancaman

Victor mengungkapkan bahwa hari pertamanya bukan di pekerjaan biasa, melainkan di sebuah rumah kosong dekat Saint-Petersburg, lalu dipaksa menandatangani kontrak militer di pangkalan militer Rusia. "Mereka bilang, jika tidak tanda tangan, kamu mati," ujarnya sambil menunjukkan catatan dinas militer dan medali perangnya.

Beberapa orang sekaligus berbaris di rumah sakit militer dengan luka-luka serius. Mark mengungkapkan bahwa bahkan mereka yang ingin pulang harus membayar sekitar $4.000, jumlah yang mustahil bagi kebanyakan orang. Uang yang dijanjikan pun sering tidak pernah diterima penuh atau bahkan tidak sama sekali.

Peran Agen Rekrutmen dan Kasus Tindak Pidana

Mereka direkrut melalui agen Global Face Human Resources yang mengklaim mampu menghubungkan pencari kerja dengan "kesempatan menarik". Namun, seorang pegawai agensi tersebut, Edward Gituku, kini sedang diadili atas tuduhan perdagangan manusia. Dalam sebuah penggerebekan, 21 pemuda berhasil diselamatkan sebelum diberangkatkan.

Meskipun pihak agensi membantah, sekitar 200 warga Kenya telah dikirim ke medan perang di Ukraina, dengan sedikit yang telah dipulangkan. Data dari klinik di Nairobi juga mengonfirmasi puluhan orang yang menjalani pemeriksaan sebelum keberangkatan, rata-rata adalah mantan tentara Kenya yang tidak diberitahu tujuan sesungguhnya.

Pengaruh dan Taktik Rusia dalam Perekrutan

Rusia mengalami kerugian besar dalam perang di Ukraina, dengan lebih dari 1,2 juta korban, dua kali lipat dibandingkan Ukraina menurut intelijen Barat. Untuk mengimbangi kekurangan personel, Moskow memperluas perekrutan ke negara-negara Afrika, termasuk Kenya.

Duta Besar Ukraina untuk Kenya, Yurii Tokar, menyatakan Rusia memanfaatkan keputusasaan ekonomi para pemuda Afrika sebagai sumber "peluru hidup" dalam konflik. Rekrutan dari berbagai negara Afrika, seperti Nigeria, Kamerun, Mesir, dan Afrika Selatan, ditemui di kamp pelatihan maupun lapangan perang.

Kengerian di Medan Perang

Victor menggambarkan pengalaman mengerikan ketika harus menyeberangi medan yang penuh mayat di Donbas. Dari satu unit berjumlah 27 orang, hanya dua yang berhasil survive melewati medan bahaya tersebut. Ia sendiri harus bersembunyi di bawah mayat untuk menghindari serangan drone yang melukainya di lengan.

Situasi yang sama dialami Erik, yang walaupun awalnya mengira akan bergabung dengan klub olahraga, justru dikirim ke medan perang yang sama. Dari 24 anggota operasi, hanya tiga yang bertahan, termasuk Erik yang terluka oleh serangan drone.

Trauma dan Kehilangan Keluarga

Mark membawa bekas luka parah akibat granat yang diluncurkan oleh drone Ukraina. Ia dan rekan-rekannya mendapatkan perawatan di rumah sakit di Moskow sebelum berhasil melarikan diri lewat kedutaan Kenya. Moses juga berhasil melarikan diri dari unitnya dan kini mengalami trauma serius yang dapat dipicu oleh suara burung.

Keluarga mereka turut merasakan dampak paling menyakitkan. Misalnya, Grace Gathoni, yang baru mengetahui bahwa suaminya yang direkrut sebagai sopir di Rusia telah meninggal dalam pertempuran. Begitu pula Charles Ojiambo Mutoka yang kehilangan putranya dan menyatakan kemarahan atas perlakuan tersebut.

Kisah ini menggambarkan bagaimana janji manis pekerjaan berubah menjadi mimpi buruk perang dan tragedi manusia akibat perekrutan paksa yang penuh tipu daya. Kasus ini menjadi peringatan serius terkait perdagangan manusia dan eksploitasi krisis kemanusiaan dalam konflik global.

Berita Terkait

Back to top button