Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) mengungkap pengakuan para pelaku penembakan terhadap Letnan Jenderal Vladimir Alexeyev yang menyatakan bahwa mereka bertindak atas perintah Dinas Keamanan Ukraina (SBU). Para tersangka juga mengaku dijanjikan imbalan sebesar 30.000 dolar AS (sekitar Rp480 juta) jika berhasil melaksanakan tugas tersebut.
Menurut keterangan resmi yang dirilis FSB dan dimuat oleh kantor berita TASS pada 9 Februari 2026, para pelaku memberikan kesaksian rinci mengenai persiapan dan pelaksanaan percobaan pembunuhan. Hal ini menegaskan adanya keterlibatan langsung intelijen Ukraina dalam aksi yang berlangsung pada 6 Februari di sebuah gedung apartemen di wilayah barat laut Moskow.
Proses Perekrutan dan Pelatihan Pelaku
Pelaku utama penembakan, Lyubomir Korba, diidentifikasi sebagai warga negara Rusia kelahiran 1960 yang direkrut oleh SBU sejak Agustus 2025. Korba mengaku menerima pelatihan penggunaan senjata api di sebuah lapangan tembak di Kiev, Ukraina. Perekrutan Korba juga diklaim difasilitasi oleh badan intelijen Polandia yang berperan dalam mendukung operasi tersebut.
Setelah proses rekrutmen, Korba melakukan pengamatan terhadap sejumlah perwira tinggi militer Rusia di wilayah Moskow. SBU menyediakan senjata melalui tempat penyimpanan rahasia (stash) di luar kota Moskow agar aksinya bisa terlaksana tanpa hambatan.
Peran Pendukung dalam Operasi Penembakan
Selain Korba, FSB mengungkap keterlibatan Zinaida Serebritskaya yang menyewa apartemen di gedung tempat Letnan Jenderal Alexeyev tinggal. Dia diduga mengirimkan kunci elektronik pintu depan gedung kepada Korba agar pelaku dapat melakukan aksinya dengan mudah. Seseorang bernama Viktor Vasin juga ditahan karena diduga terlibat dalam rencana tersebut. Vasin diketahui merupakan pendukung Yayasan Anti-Korupsi yang telah diklasifikasikan sebagai organisasi teroris di Rusia.
Detil Insiden dan Penangkapan Pelaku
Percobaan pembunuhan terjadi ketika Korba menembakkan beberapa kali ke arah Jenderal Alexeyev, namun operasi itu gagal. Setelah aksi itu, Korba kabur ke luar negeri dan akhirnya ditangkap di Dubai oleh aparat keamanan Uni Emirat Arab (UEA) sebelum diekstradisi ke Rusia. Sementara itu, Viktor Vasin ditahan di Moskow, tetapi Zinaida Serebritskaya dilaporkan melarikan diri ke Istanbul satu hari sebelum percobaan pembunuhan.
Imbalan dan Pengakuan Pelaku
Para tersangka mengaku bahwa mereka melakukan aksi penembakan atas perintah langsung dari SBU dan dijanjikan imbalan 30.000 dolar AS bila misi berhasil. FSB menegaskan pengakuan tersebut sebagai bagian dari penyelidikan yang masih berlangsung guna mengungkap jaringan serta aktor-aktor lain yang ikut terlibat dalam rencana pembunuhan ini.
Informasi ini menambah ketegangan antara Rusia dan Ukraina, di tengah konflik yang terus berlanjut dan berbagai operasi intelijen rahasia yang dilaporkan. Pihak berwenang Rusia terus mengupayakan pengungkapan penuh dan penindakan terhadap semua pihak yang terkait demi menjaga stabilitas nasional dan keamanan pejabat negara.







