Rival Politik Bangladesh Gelar Kampanye Akhir, Warisan Revolusi 2026 Jadi Fokus Utama Pemilu

Bangladesh mengakhiri masa kampanye pemilu menjelang pemungutan suara yang akan digelar dalam minggu ini. Dalam hari terakhir, partai-partai saingan menggelar serangkaian rally besar di ibu kota Dhaka.

Ribuan pendukung hadir dengan membawa bendera dan simbol partai, bersemangat mengenang pemberontakan massal yang terjadi pada tahun ini. Momentum itu digunakan untuk menyampaikan visi perubahan bagi negara yang berpenduduk sekitar 170 juta jiwa tersebut.

Persaingan Sengit Dua Koalisi Utama

Pemilu ini akan memilih anggota parlemen untuk 350 kursi. Partai Bangladesh Nationalist Party (BNP), yang dipimpin oleh Tarique Rahman, digadang-gadang sebagai favorit. Tarique Rahman kembali dari pengasingan setelah 17 tahun pada bulan Desember lalu dan langsung menjadi wajah utama BNP.

Pesaing utama BNP adalah partai Islam terbesar di Bangladesh, Jamaat-e-Islami, yang dipimpin Shafiqur Rahman. Jamaat telah membentuk aliansi dengan National Citizen Party (NCP), partai yang dibentuk oleh para pemimpin mahasiswa yang menginisiasi pemberontakan tahun ini.

Kampanye dan Janji Politik

Tarique Rahman berbicara dengan penuh percaya diri di hadapan ribuan pendukung BNP. Ia menegaskan bahwa partainya memiliki pengalaman dan rencana nyata untuk memimpin negara. "BNP satu-satunya yang memiliki rencana dan pengalaman itu," ujarnya mengacu pada warisan politik orang tuanya.

Dalam pidato penutup kampanyenya yang disiarkan di televisi, Tarique juga menjangkau sekitar 10 persen warga Bangladesh yang bukan Muslim, sebagian besar beragama Hindu. Ia menyebutkan bahwa Bangladesh adalah negeri yang terdiri dari Muslim, non-Muslim, agnostik, dan penduduk dataran serta pegunungan.

Dinamika Politik Pasca-Pemberontakan

Pemimpin terdahulu dan mantan perdana menteri Sheikh Hasina, yang berkuasa selama 15 tahun, digulingkan pada bulan Agustus lalu. Pemerintah sementara melarang partainya, Awami League, ikut dalam pemilu kali ini, kebijakan yang mendapat kritik dari kelompok HAM internasional.

Hasina, yang saat ini bersembunyi di India, divonis hukuman mati secara in absentia atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait tindakan kerasnya terhadap para pengunjuk rasa sebelum penggulingannya.

Visi Jamaat-e-Islami dan NCP

Shafiqur Rahman, bersama koalisi Islamis yang seideologi dengan Muslim Brotherhood, juga melaksanakan kampanye besar dengan tema keadilan. Seorang mahasiswa berusia 21 tahun, Ashikuzzaman Shaon, menyatakan harapannya bahwa pemerintahan Jamaat akan mengurangi pemerasan dan kekerasan.

Shafiqur Rahman menuduh partai yang lama berkuasa melakukan penindasan hebat dan menyebut bentuk penyalahgunaan kekuasaan baru muncul setelah pergantian pemerintahan. Ia berjanji membangun negara yang bersatu tanpa dominasi oleh kelompok keluarga tertentu.

Jika berhasil, pemerintahan ini akan menjadi yang pertama di Bangladesh yang dipimpin oleh partai Islamis di tengah negara yang secara konstitusional menjunjung sekularisme.

Deklarasi Dukungan dan Pesan Revolusi

Nahid Islam, pemimpin NCP yang beraliansi dengan Jamaat, menuduh para partai besar secara diam-diam terlibat dalam bisnis pemerasan dan kejahatan selama puluhan tahun. Ia berjanji mengabdikan diri demi kemajuan daerah pemilihannya.

Para pendukung di berbagai rally menggemakan slogan dari pemberontakan, seperti “Hidup revolusi!” dan “Perbudakan atau kebebasan?” dengan jawaban serempak "Kebebasan, kebebasan!"

Seorang pengemudi becak berusia 58 tahun, Tota Mia, mengaku telah mengikuti berbagai kampanye. Ia menyatakan memilih Jamaat dalam pemilu kali ini karena berharap mendapatkan kedamaian meskipun kondisi ekonominya tidak pasti.

Pemilu di Bangladesh kali ini menjadi babak penting bagi masa depan negara, dengan sejumlah partai menawarkan model pemerintahan yang berbeda. Momentum politik ini sangat menentukan arah perubahan dalam tatanan sosial dan ekonomi negara tersebut.

Terkait