Israeli President Isaac Herzog mengakhiri kunjungannya yang penuh ketegangan selama empat hari di Australia dengan menguatkan komunitas Yahudi yang masih trauma akibat serangan antisemit baru-baru ini. Kunjungan ini juga diwarnai demonstrasi besar yang menentang dampak perang di Gaza terhadap warga sipil.
Herzog melakukan kunjungan ke Sydney, Canberra, dan Melbourne, yang merupakan kunjungan kepala negara Israel pertama ke Australia dalam enam tahun. Selama di Melbourne, Herzog mengatakan, “Kami datang ke sini untuk bersama Anda, menatap mata Anda, memeluk, mengingat, dan menangis bersama.” Ia menyatakan dukungan penuh kepada komunitas Yahudi yang “memiliki keindahan dan ketahanan luar biasa” di tengah kesulitan ini.
Kunjungan Herzog datang atas undangan pemerintah Australia untuk mendukung komunitas Yahudi yang berduka setelah serangan bom pada festival Yahudi di Bondi Beach yang menewaskan 15 orang. Serangan tersebut diduga terinspirasi oleh kelompok Negara Islam. Jeremy Leibler, Presiden Zionist Federation of Australia, yang mendampingi Herzog, meminta demonstran untuk mempertimbangkan trauma yang dialami komunitas Yahudi di Sydney.
Namun, kunjungan Herzog tidak lepas dari kontroversi. Sejumlah pengunjuk rasa menuduhnya melakukan propaganda, karena selain memberikan dukungan kemanusiaan, Herzog juga bermaksud memperbaiki hubungan bilateral dan membantah “banyak kebohongan serta misinformasi” tentang Israel selama dua tahun terakhir. Seorang pengacara hak asasi manusia Australia, Chris Sidoti, mengatakan bahwa kunjungan Herzog lebih bersifat politik daripada murni untuk berempati.
Sidoti adalah salah satu dari tiga ahli yang diangkat oleh Dewan Hak Asasi Manusia PBB dan melaporkan bahwa Herzog dan beberapa pejabat Israel diduga menghasut genosida di Gaza pada laporan September tahun lalu. Hubungan antara Australia dan Israel memang sempat memanas setelah Australia mengakui negara Palestina setengah tahun lalu.
Selama kunjungan ini, Herzog mengaku berdiskusi dengan pemimpin politik dan tokoh opini di Australia secara jujur dan penuh saling menghormati. Ia menyatakan, “Saya menemukan mitra yang serius yang bersedia mengadakan percakapan serius dan menghadapi retorika jahat, misinformasi, serta antisemitisme dengan tegas.”
Kunjungan Herzog juga berhadapan dengan risiko keamanan yang tinggi. Rencana kunjungan ke reruntuhan Sinagoga Adass Israel di Melbourne batal karena alasan keamanan. Sinagoga tersebut pernah dibakar pada akhir tahun lalu, dan Australia menuduh Iran bertanggung jawab atas serangan itu, kemudian mengusir Duta Besar Iran Ahmad Sadeghi. Di kampus Universitas Melbourne, terdapat grafiti yang menghina Herzog, namun segera dihapus oleh pihak universitas yang menegaskan sikap tegas terhadap antisemitisme.
Pada hari pertama kunjungan, Herzog meletakkan karangan bunga di Bondi Beach dan bertemu dengan penyintas serta keluarga korban serangan. Di Parlemen Australia, Herzog menyatakan bahwa kunjungannya adalah kesempatan untuk memulai “awal yang baru dan masa depan yang lebih baik” dalam hubungan bilateral kedua negara.
Kunjungan Herzog ke Australia berlangsung di tengah situasi geopolitik yang kompleks dan menimbulkan reaksi beragam dari masyarakat Australia. Peristiwa ini menyoroti tantangan yang dihadapi komunitas Yahudi di diaspora serta dinamika hubungan internasional yang dipengaruhi oleh konflik berkepanjangan di Timur Tengah.





