Ghana Bela Tradisi dengan Ledakan Permintaan Baju Fugu Setelah Presiden Mahama Dikritik Asing

Ghana menunjukkan solidaritas kuat untuk mendukung pakaian tradisional mereka, “fugu”, setelah Presiden John Mahama mengenakan busana tenun khas tersebut dalam kunjungan kenegaraan ke Zambia. Tindakan ini memicu perbincangan luas setelah mendapat reaksi negatif dari beberapa kalangan asing di media sosial.

Fugu adalah pakaian longgar yang tenunannya berasal dari Ghana utara dan dianggap sebagai kostum nasional negara tersebut. Biasanya dipakai saat festival, acara politik, serta kegiatan formal lainnya. Namun, penampilan Mahama dengan fugu bergaris biru-putih-abu-abu di karpet merah dan upacara kehormatan di Lusaka dianggap tidak pantas bagi seorang kepala negara oleh beberapa pengamat asing.

Meski mendapatkan kritik, pemerintah Ghana menanggapinya dengan mendeklarasikan hari Rabu sebagai “hari fugu”. Sejak saat itu, permintaan akan pakaian tradisional ini meningkat tajam di pasar lokal. Pedagang kain dan penenun melaporkan lonjakan pembeli yang ingin mengenakan pakaian kuno ini sebagai identitas budaya mereka.

William Nene, seorang pedagang tekstil di Accra, menyatakan bahwa banyak pelanggan sekarang menginginkan fugu yang sama seperti yang dipakai Presiden Mahama. “Diskusi di dunia maya membuat banyak orang ingin mengenakan sesuatu yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang Ghana,” ujarnya.

Kebangkitan minat ini juga membuka dialog lebih luas mengenai identitas dan pelestarian warisan budaya lewat tekstil lokal. Penenun Shadrack Yao Agboli menuturkan meningkatnya ketertarikan generasi muda untuk mempelajari proses pembuatan dan asal-usul fugu. Ia menekankan bahwa setiap kain dikerjakan dengan teliti dan membutuhkan waktu beberapa hari.

Agboli menambahkan bahwa ketika tokoh nasional mengenakan fugu, pesan yang tersampaikan adalah bahwa kain itu milik rakyat Ghana. Sejarawan Yaw Anokye Frimpong juga menyebut fugu sebagai pakaian nasional tidak resmi dengan nilai historis yang dalam. Berbeda dengan kain kente yang bersifat seremonial, fugu merupakan pakaian sehari-hari yang pernah dipakai oleh para leluhur bahkan dalam pertempuran.

Lebih dari sekadar simbol patriotisme, peningkatan minat terhadap fugu ini diharapkan dapat membantu mengembangkan industri kerajinan lokal. Banyak pengrajin menghadapi tantangan kompetisi dengan pakaian impor, terutama dari China, yang harganya jauh lebih murah. Frederick Ohene Offei-Addo, seorang pemimpin stasiun radio lokal, menegaskan bahwa memilih tekstil buatan Ghana bukan hanya soal budaya, tetapi juga strategi ekonomi untuk membuka lapangan pekerjaan.

Pemerintah Ghana sendiri telah mendorong pengembangan industri dan ekspor budaya sebagai upaya meningkatkan sektor lokal serta mengurangi ketergantungan impor. Namun bagi para pedagang seperti Nene, dampak langsung penjualan lebih penting daripada politisasi. “Saat orang melihat Presiden mengenakan fugu, mereka juga ingin memilikinya,” katanya sambil menunjukkan hampir semua baju di tokonya terjual habis.

Kini produksi fugu masih berusaha mengejar permintaan yang meningkat pesat. Kain ini tidak hanya menjadi simbol kebanggaan budaya, tetapi juga sumber penghidupan penting bagi banyak keluarga penenun di Ghana. Upaya melestarikan fugu di tengah arus globalisasi menunjukkan bagaimana pakaian tradisional dapat memainkan peran penting dalam memperkuat identitas bangsa sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

Terkait