Perdana Menteri Kanada Mark Carney dan pemimpin oposisi utama Pierre Poilievre menunjukkan solidaritas dengan bergandengan tangan saat menghadiri vigili mengenang korban penembakan sekolah di Tumbler Ridge, British Columbia. Acara tersebut digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap enam korban tewas dalam insiden penembakan massal yang sangat tragis di negara tersebut.
Di luar balai kota Tumbler Ridge, seorang pemimpin adat membawakan doa dalam upacara memperingati para korban. Carney dan Poilievre secara bergantian menyampaikan kata-kata duka, dengan Carney menyebut nama enam korban yang meninggal serta ibu dan saudara pelaku yang juga menjadi korban dalam tragedi tersebut.
Pelaku yang berusia 18 tahun, Jesse Van Rootselaar, terlebih dahulu membunuh ibunya, Jennifer Jacobs, berumur 39 tahun dan saudara tirinya Emmett Jacobs yang berusia 11 tahun. Setelah itu, ia berangkat ke Sekolah Menengah Tumbler Ridge dan melakukan penembakan yang menewaskan lima anak dan seorang pengajar sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri.
Carney menyatakan bahwa dirinya berbincang langsung dengan warga yang mengalami trauma mendalam akibat insiden tersebut. Ia menyampaikan bahwa jutaan warga Kanada mendukung mereka secara emosional, bahkan ketika perhatian media mulai surut dan suasana menjadi tenang.
Ratusan warga menghadiri vigili tersebut dengan membawa foto-foto orang tercinta yang telah kehilangan nyawa. Menurut Carney, komunitas Tumbler Ridge dikenal karena saling peduli dan bahu-membahu, yang juga terlihat saat kejadian mengerikan itu dengan respon cepat dari petugas pertama dan guru yang melindungi para siswa.
Pemimpin oposisi Pierre Poilievre memuji sikap penuh penghormatan yang ditunjukkan Carney selama acara tersebut. Mereka berdua bahkan bersama-sama terbang dari Ottawa untuk menunjukkan keberpihakan terhadap masyarakat korban.
Perdana Menteri British Columbia, David Eby, memberikan jaminan kepada siswa sekolah tersebut bahwa mereka tidak akan dipaksa kembali ke gedung yang menjadi lokasi tragedi. Pemerintah berkomitmen menyediakan tempat belajar yang aman bagi mereka.
Identifikasi nama enam korban dipublikasikan, yaitu Kylie Smith, Abel Mwansa, Zoey Benoit, dan Ticaria Lampert yang semuanya berusia 12 tahun, serta Ezekiel Schofield yang berumur 13 tahun dan Shannda Aviugana-Durand, seorang guru berusia 39 tahun. Selain itu, dua korban luka masih dirawat di rumah sakit di Vancouver.
Deputi Komisaris Polisi Berkuda Kanada di British Columbia, Dwayne McDonald, menjelaskan bahwa pelaku tidak tampak membidik sasaran tertentu di sekolah. Ia berpendapat pelaku melakukan penembakan secara acak terhadap siapa saja yang ditemui.
Situasi di sekolah digambarkan sangat kacau ketika polisi tiba, dengan alarm kebakaran berbunyi dan seseorang berteriak dari jendela tentang keberadaan pelaku di lantai atas. Polisi langsung menghadapi pelaku yang kemudian melumpuhkan dirinya sendiri setelah baku tembak singkat.
Polisi menyita empat senjata api, dua di antaranya dari rumah keluarga dan dua lainnya dari sekolah. Kejadian ini menjadi insiden penembakan terburuk di Kanada sejak 2020, ketika seorang penembak membunuh 13 orang di Nova Scotia dan menyebabkan kebakaran besar.
Meski insiden penembakan sekolah jarang terjadi di Kanada, yang memiliki kebijakan ketat terkait kepemilikan senjata api, pemerintah terus memperkuat pengaturan tersebut. Langkah terbaru adalah melarang kepemilikan semua jenis senjata serbu yang dianggap berbahaya.
Vigili ini adalah bentuk solidaritas nasional dalam menghadapi tragedi besar dan mencerminkan tekad Kanada untuk terus menjaga keamanan warganya melalui kerja sama lintas partai dan kebijakan yang tegas. Perhatian publik dan pemerintah tetap difokuskan pada pemulihan korban dan peningkatan langkah pencegahan kekerasan serupa di masa depan.







