Amerika Serikat telah melakukan serangkaian serangan balasan terhadap target kelompok ISIL di Suriah. Langkah ini diambil sebagai respons atas pembunuhan dua tentara AS dan seorang penerjemah sipil yang terjadi tahun lalu.
US Central Command (CENTCOM) melaporkan bahwa serangan dilakukan terhadap lebih dari 30 sasaran ISIL di Suriah antara tanggal 3 hingga 12 Februari. Sasaran utama serangan ini adalah infrastruktur kelompok bersenjata tersebut serta fasilitas penyimpanan senjata yang dihantam dengan munisi presisi.
CENTCOM menyatakan bahwa serangan terbaru ini bertujuan untuk mempertahankan tekanan militer yang intens terhadap sisa-sisa jaringan teroris tersebut. Serangan kelompok ISIL terjadi di dekat kota bersejarah Palmyra, yang menyebabkan tewasnya Sersan Edgar Brian Torres-Tovar, Sersan William Nathaniel Howard, serta Ayad Mansoor Sakat, seorang penerjemah sipil asal Amerika.
Operasi bernama Hawkeye yang digelar setelah insiden pembunuhan tersebut berhasil membunuh dan menangkap lebih dari 50 anggota ISIL, sekaligus menghantam sekitar 100 target infrastruktur kelompok itu dalam dua bulan terakhir. CENTCOM menyebutkan bahwa upaya ini merupakan bagian dari strategi berkelanjutan untuk melumpuhkan jaringan teroris secara sistematis.
Pada perkembangan lain, militer AS telah menyelesaikan pemindahan ribuan tahanan ISIL dari Suriah menuju Irak. Para tahanan ini akan menjalani proses pengadilan di Irak atas permintaan pemerintah Baghdad. Langkah ini disambut baik oleh koalisi pimpinan AS yang telah bertahun-tahun memerangi kelompok bersenjata tersebut.
Sementara itu, pemerintah Suriah mengonfirmasi bahwa pasukan mereka telah menguasai pangkalan militer al-Tanf yang terletak di wilayah timur negara tersebut. Pangkalan ini sebelumnya dioperasikan oleh pasukan AS selama bertahun-tahun dalam upaya melawan ISIL. Dalam pertempuran yang berujung pada kekalahan wilayah ISIL di Suriah pada 2019, koalisi pimpinan AS bekerja sama dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin oleh etnis Kurdi.
Namun, hubungan Washington dengan SDF mulai mengalami perubahan, dengan AS menyatakan bahwa tujuan aliansinya dengan pasukan tersebut kini sudah hampir selesai. Penarikan pasukan AS dari al-Tanf menunjukkan langkah baru, di mana Damaskus berupaya memperluas kontrolnya atas seluruh wilayah Suriah.
Dalam konteks perang melawan ISIL dan dinamika kekuasaan di Suriah, serangan balasan oleh militer AS menegaskan komitmen untuk menjaga tekanan terhadap kelompok teroris. Pemindahan tahanan ISIL serta perubahan strategi aliansi mencerminkan adaptasi AS dalam menghadapi situasi keamanan dan politik yang terus berkembang di kawasan tersebut.







