Militer Suriah Kuasai Pangkalan Al-Shaddadi Usai AS Cabut Pasukan, Babak Baru Konflik di Timur Laut Mengancam Keseimbangan Regional?

Author: Qoo Media

Pasukan tentara Suriah kini menguasai pangkalan militer al-Shaddadi di timur laut negara tersebut. Pengambilalihan ini terjadi setelah pasukan Amerika Serikat melakukan penarikan diri, sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata dengan Satuan Tugas Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin oleh Kurdi.

Kementerian Pertahanan Suriah mengumumkan bahwa pasukan Tentara Arab Suriah telah mengambil alih pangkalan militer al-Shaddadi di wilayah Hasakah. Pejabat Suriah menyebutkan bahwa pengambilalihan berjalan dengan koordinasi bersama pihak Amerika Serikat. Pangkalan ini pertama kali dikuasai oleh pasukan AS sejak tahun 2016, setelah SDF merebut wilayah tersebut dari kelompok ISIS.

Penarikan Pasukan AS dan Dampaknya

Penarikan AS dari pangkalan al-Shaddadi merupakan bagian dari strategi pengurangan kehadiran militer AS di Suriah. Jumlah personel AS telah menurun drastis dari 1.500 anggota pada pertengahan tahun lalu menjadi sekitar 900 saat ini. Selain itu, pasukan AS juga telah menyerahkan kendali pangkalan al-Tanf di perbatasan Suriah dengan Irak dan Yordania ke tentara Suriah.

Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa pelaksanaan gencatan senjata ini “berjalan ke arah positif”. Ia menekankan pentingnya implementasi kesepakatan yang telah dibuat serta perlunya kesepakatan serupa dengan komunitas Druze, Badui, dan Alawi di Suriah untuk menjaga stabilitas.

Strategi Baru Amerika Serikat di Wilayah Ini

Laporan dari Aleppo mengungkap bahwa warga di sekitar al-Shaddadi sempat mendengar suara ledakan dan melihat api di pangkalan militer tersebut. Aktivitas ini merupakan bagian dari persiapan pengosongan pangkalan oleh pasukan AS yang telah berlangsung selama beberapa minggu. Presiden AS kini memusatkan kerja sama secara langsung dengan pemerintah Suriah, menandai perubahan signifikan dalam kebijakan regional.

Meskipun pasukan darat AS berkurang, operasi udara untuk melawan ISIS tetap berjalan intensif. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah melaksanakan 10 serangan udara terhadap 30 target ISIS dalam periode awal Februari dan berhasil membunuh atau menangkap lebih dari 50 anggota kelompok tersebut. Komandan CENTCOM, Admiral Brad Cooper, menegaskan bahwa pasukan AS akan tetap siap merespons ancaman ISIS yang muncul.

Dinamika Konflik dan Stabilitas Regional

Peralihan penguasaan pangkalan al-Shaddadi mengindikasikan adanya pergeseran keseimbangan kekuatan di Suriah. Kesepakatan gencatan senjata dengan SDF dan penarikan AS berpotensi mengurangi konflik internal yang sebelumnya mengancam integritas wilayah Suriah.

Menurut Marco Rubio, meskipun proses tersebut sulit, hasil akhir lebih baik dibandingkan skenario di mana Suriah terpecah menjadi beberapa bagian yang diperangi secara terus-menerus. Keadaan tersebut diperkirakan akan mengurangi migrasi massal dan dampak kemanusiaan di kawasan tersebut.

Fakta-Fakta Penting Mengenai Pengambilalihan Pangkalan al-Shaddadi

  1. Pangkalan al-Shaddadi berada di wilayah Hasakah, timur laut Suriah.
  2. Pangkalan sempat dikuasai oleh AS sejak 2016 setelah direbut dari ISIS oleh SDF.
  3. Penarikan pasukan AS dilakukan secara bertahap, mengurangi jumlah personel dari 1.500 menjadi sekitar 900.
  4. Tentara Suriah menguasai al-Shaddadi melalui koordinasi dengan pihak AS.
  5. Operasi udara AS terhadap target ISIS tetap aktif meski ada penarikan pasukan darat.
  6. Gencatan senjata ini juga melibatkan komunitas lokal seperti Druze, Badui, dan Alawi.

Penyerahan kendali pangkalan ini menjadi tonggak penting yang menandai pergeseran peran AS dan pemerintahan Suriah dalam konflik yang sudah berlangsung lama. Ke depan, keberlanjutan perdamaian dan stabilitas di wilayah tersebut sangat bergantung pada pelaksanaan kesepakatan dan kerja sama antar berbagai komunitas di Suriah.

Terbaru