Nasser Hospital Gaza Tuding MSF Sebar Fitnah ‘Pria Bersenjata’, Tuduhan yang Bisa Mengancam Selamatkan Jutaan Nyawa di Tengah Perang!

Rumah Sakit Nasser di Gaza mengecam tuduhan kelompok kemanusiaan Doctors Without Borders (MSF) yang menyatakan adanya keberadaan pria bersenjata dan senjata di fasilitas rumah sakit tersebut. Pihak rumah sakit menegaskan bahwa tuduhan itu tidak berdasar, menyesatkan, dan berpotensi membahayakan status perlindungan rumah sakit yang melayani lebih dari satu juta warga sipil di wilayah selatan Gaza.

MSF menghentikan sementara semua operasi medis nonkritis di Rumah Sakit Nasser karena mengaku mengalami gangguan keamanan yang mengancam keselamatan staf dan pasien. Organisasi internasional asal Jenewa ini menyatakan adanya peningkatan kemunculan pria bersenjata di beberapa area fasilitas setelah gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat antara Israel dan Hamas pada Oktober lalu.

Namun, Rumah Sakit Nasser menegaskan bahwa pernyataan MSF memutarbalikkan fakta dan menyerupai narasi yang kerap digunakan untuk membenarkan serangan terhadap fasilitas kesehatan. Pernyataan ini dianggap merusak status rumah sakit sebagai lembaga yang dilindungi oleh hukum kemanusiaan internasional. Pihak rumah sakit secara tegas menyatakan bahwa tuduhan tersebut membantu memperkuat alasan bagi serangan terhadap fasilitas medis yang sangat dibutuhkan di Gaza.

Pihak Rumah Sakit Nasser meminta MSF segera mencabut semua tuduhan terkait keberadaan senjata dan pria bersenjata di kompleksnya. Selain itu, mereka mendesak organisasi tersebut agar menegaskan kembali komitmen terhadap netralitas medis berdasarkan fakta yang terverifikasi. Pernyataan itu juga menyinggung kondisi darurat berkepanjangan di Gaza akibat serangan sistematis terhadap institusi sipil, yang telah memicu tindakan pelanggaran hukum oleh individu maupun kelompok yang tidak terkendali, termasuk pembawaan senjata oleh sebagian pihak.

Rumah sakit di Khan Younis ini juga mengakui telah menjadi sasaran serangan dan ancaman. Namun, mereka menyatakan telah mengatur kehadiran polisi sipil sesuai dengan hukum nasional dan norma internasional untuk menjaga keamanan. Dukungan serupa juga datang dari kelompok Doctors Against Genocide yang mengecam tuduhan palsu dari MSF. Mereka menekankan bahwa konsekuensi dari tuduhan tersebut membahayakan nyawa pekerja medis dan pasien di fasilitas tersebut.

Langkah MSF menghentikan operasional sebagian besar kegiatannya di Gaza terjadi setelah perintah dari pemerintah Israel yang meminta organisasi kemanusiaan internasional untuk menghentikan aktivitas kecuali memenuhi persyaratan baru. Persyaratan itu termasuk menyerahkan data rinci staf mereka. Dua pekan sebelumnya, MSF menolak memberikan daftar personilnya kepada Israel karena tidak mendapatkan jaminan keamanan bagi para stafnya.

Perang yang berkecamuk di Gaza dianggap telah menghancurkan infrastruktur kesehatan secara besar-besaran. Israel juga masih menahan sekitar 95 dokter dan tenaga medis Palestina, dengan mayoritas berasal dari wilayah Gaza. Kondisi ini semakin memperberat situasi layanan kesehatan yang sangat dibutuhkan di tengah krisis kemanusiaan di Gaza.

Terkait