Iran Tantang AS: “Buktikan Mau Damai Nuklir” – Kesepakatan Gagal Jika Sanksi Tak Dibahas, Diplomasi Kritis di Geneva Memanas!

Iran menyatakan kesiapan untuk berkompromi dengan Amerika Serikat terkait negosiasi perjanjian nuklir jika AS bersedia membahas pencabutan sanksi. Pernyataan ini disampaikan oleh Majid Takht-Ravanchi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, yang mengatakan bahwa "bola ada di lapangan Amerika untuk membuktikan mereka ingin mencapai kesepakatan."

Takht-Ravanchi menambahkan bahwa jika AS tulus dalam niatnya, proses menuju kesepakatan akan terbuka. Ia menegaskan kesiapan Iran untuk mendiskusikan berbagai isu terkait program nuklir mereka, dengan syarat pembicaraan sanksi menjadi bagian dari dialog tersebut.

Peran Oman dalam Mediasi Pembicaraan Nuklir
Pembicaraan tidak langsung antara delegasi Iran dan AS berlangsung di Jenewa dengan mediasi dari Oman. Diplomatik utama Iran, Abbas Araghchi, memimpin delegasi dalam putaran kedua negosiasi ini setelah putaran awal yang juga dimediasi oleh Oman.

Sementara itu, pejabat AS menuduh Iran sebagai pihak yang menghambat kemajuan negosiasi. Sekretaris Negara AS Marco Rubio menyatakan bahwa Presiden Donald Trump menginginkan tercapainya kesepakatan, namun sulit dilakukan mengingat posisi Iran saat ini.

Tawaran dan Permintaan Iran dalam Negosiasi
Iran menawarkan pengurangan kadar uranium yang diperkaya hingga 60 persen sebagai bukti niat kompromi. Namun, perwakilan Iran belum memastikan apakah mereka akan mengirimkan lebih dari 400 kilogram uranium itu ke luar negeri seperti pada kesepakatan tahun 2015, karena itu masih menjadi bagian dari negosiasi.

Salah satu tuntutan utama Iran adalah pembahasan fokus hanya pada isu nuklir. Menurut Takht-Ravanchi, Iran menilai bahwa fokus pembicaraan hanya pada program nuklir menjadi prasyarat utama untuk mencapai kesepakatan. Dia juga menegaskan bahwa gagasan mengenai "nol pengayaan" uranium tidak lagi menjadi bahasan bagi Iran.

Ketegangan Militer dan Ancaman AS
Di tengah negosiasi, Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militer di kawasan Timur Tengah. Kapal induk USS Gerald R. Ford diinstruksikan untuk berlayar menuju wilayah tersebut sebagai persiapan kemungkinan operasi militer berkelanjutan terhadap Iran.

Presiden Trump bahkan mengancam tindakan militer lanjutan jika kesepakatan untuk membatasi program nuklir Iran tidak bisa dicapai. Ketegangan ini meningkat seiring dengan demonstrasi besar-besaran di Iran pada bulan Desember yang berakhir dengan ribuan korban tewas akibat tindakan rezim clerical, menurut laporan yang dipantau AS.

Faktor Penting dalam Negosiasi Nuklir

  1. Iran meminta sanksi dicabut sebagai bagian dari kesepakatan.
  2. AS menuntut pengawasan ketat atas program nuklir Iran.
  3. Iran membuka kemungkinan kompromi pada pengayaan uranium.
  4. Oman berperan sebagai mediator dalam pembicaraan.
  5. AS menegaskan diplomasi sambil memperkuat kehadiran militer di kawasan.

Keseriusan kedua belah pihak dalam memperlihatkan niat tulus menjadi kunci utama kelanjutan pembicaraan nuklir. Iran menunggu bukti komitmen dari Amerika Serikat sebelum menawarkan konsesi lebih jauh. Sementara itu, ancaman eskalasi militer masih mewarnai situasi sebelum tercapainya kesepakatan yang dapat menetralisir ketegangan.

Exit mobile version