Anak-anak Sudan Selatan Terperangkap dalam Kekejaman Perang: Lapar, Terluka, dan Yatim di Zona Konflik Mematikan

Bayi berusia 18 bulan terbaring lemah di sebuah rumah sakit kumuh di wilayah konflik Sudan Selatan dengan luka tembak di kakinya. Korban kecil ini menjadi salah satu anak yang baru saja menjadi yatim akibat serangan militer yang terjadi di kampung halamannya.

Nenek bayi tersebut menceritakan bahwa pasukan pemerintah tiba-tiba menembaki semua orang di sekitar, termasuk anak-anak dan perempuan. Korban luka tersebut kehilangan ibunya dalam serangan itu, sehingga kini dia menjadi anak yatim piatu yang bergantung pada uluran tangan.

Sudan Selatan merdeka pada 2011, tetapi konflik segera meletus antara dua pemimpin rival, Salva Kiir dan Riek Machar. Meskipun ada perjanjian pembagian kekuasaan pada 2018, situasi keamanan memburuk dan perjanjian tersebut nyaris runtuh tahun ini.

Konflik bersenjata di negara bagian Jonglei telah memaksa sekitar 280.000 jiwa mengungsi sejak Desember, menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa. Rumah sakit di kota oposisi Akobo kini kewalahan dengan pasien, termasuk puluhan pria muda yang dirawat akibat luka tembak.

Rumah sakit yang berdiri di bangunan seadanya itu hanya memiliki satu dokter bedah. Pasien datang dalam kondisi kritis, termasuk seorang perempuan tua yang harus dibopong berhari-hari untuk mendapat perawatan setelah ditembak tentara di kedua kakinya.

Seorang pejabat lokal membenarkan banyak warga menunggu bantuan pangan, namun sejauh ini belum ada tanda-tanda pengiriman bantuan. Lebih dari separuh pengungsi adalah anak-anak yang mungkin sudah mengungsi untuk kedua atau ketiga kalinya.

UNICEF memperingatkan sekitar 825.000 anak di tiga negara bagian berisiko mengalami malnutrisi akut akibat kekurangan pangan dan akses yang terbatas. Banyak keluarga terpaksa bergantung pada makanan seadanya dari alam, seperti buah, kacang, dan biji teratai.

Salah seorang ibu pengungsi membawa bayinya yang baru lahir di sebuah tempat yang bahkan tidak tercatat dalam peta resmi. Ia memberi nama anaknya “Riak,” yang berarti “bencana,” melambangkan penderitaan yang dialami mereka.

Di ibu kota Jonglei, Bor, rumah sakit setempat kekurangan persediaan medis akibat serangan terhadap fasilitas kesehatan sebelumnya. Klinik utama di kota Fangak hancur total oleh serangan udara, menghilangkan semua obat dan peralatan yang ada.

Direktur rumah sakit menyatakan kekurangan pasokan dapat mengancam nyawa pasien yang datang bertubi-tubi. Pemerintah mengklaim persediaan cukup, namun kenyataannya fasilitas medis terus berjuang mengatasi lonjakan pasien.

Sudan Selatan juga dikategorikan sebagai negara dengan tingkat korupsi tertinggi di dunia. Ribuan juta pendapatan minyak negara tersebut diduga diselewengkan oleh elit penguasa, sehingga sebagian besar kebutuhan kesehatan bergantung pada bantuan internasional.

Selain masalah kesehatan dan keamanan, pendidikan anak-anak pengungsi juga terancam. Lebih dari 70 persen anak-anak di Sudan Selatan tidak bersekolah, memperbesar risiko hilangnya generasi produktif.

Di kamp pengungsian di Lake State, program pendidikan dan dukungan psikososial darurat mulai dijalankan oleh lembaga internasional. Ribuan anak sudah terdaftar, meskipun ancaman kelaparan dan ketidakpastian masa depan masih membayangi.

Seorang perempuan muda yang tumbuh di tengah konflik lama mengungkapkan keinginannya agar anak-anaknya mendapat pendidikan, tetapi kebutuhan makanan menjadi prioritas utama setiap harinya. Kondisi ini menunjukkan kompleksitas krisis kemanusiaan yang semakin parah.

Situasi di Sudan Selatan kini menggambarkan lingkaran perang, kelaparan, dan kehilangan yang terus menjerat anak-anak tanpa adanya solusi politik dan kemanusiaan yang signifikan. Anak-anak ini menjadi saksi bisu dari kegagalan sistem yang seharusnya melindungi mereka.

Terkait