Pasukan keamanan Guatemala telah dikerahkan ke ibu kota untuk menghadapi kelompok geng yang telah menimbulkan krisis keamanan besar. Langkah ini menyusul serangkaian serangan yang menewaskan 11 petugas polisi dan memicu kondisi darurat keamanan selama satu bulan.
Presiden Bernardo Arevalo memerintahkan operasi “Plan Sentinel” dengan tujuan membongkar dominasi geng Barrio 18 dan MS-13 di wilayah perkotaan. Kedua kelompok ini dianggap oleh pemerintah Guatemala dan Amerika Serikat sebagai organisasi teroris yang menyebarkan kekerasan dan kejahatan terorganisir.
Pasukan militer dan polisi yang membawa senjata berat serta kendaraan lapis baja siap membersihkan kawasan utara kota yang selama ini dikendalikan oleh geng-geng tersebut. Meskipun jumlah pasukan yang dikerahkan tidak diumumkan secara resmi, operasi ini diperkirakan melibatkan kekuatan militer yang besar dan terorganisir.
Presiden Arevalo menegaskan bahwa pemerintahannya, yang berideologi tengah-kiri, memiliki kemampuan sama baiknya dengan pemerintah regional yang berhaluan kanan dalam mengatasi kekerasan serta pemerasan. Namun, Arevalo berkomitmen menjalankan operasi tanpa pelanggaran hak asasi manusia.
Dalam pidatonya kepada pasukan, Arevalo menyampaikan bahwa operasi ini juga akan diperluas ke wilayah Departemen Guatemala, yang mencakup ibu kota. Menteri Pertahanan Henry Saenz menuturkan bahwa operasi akan fokus pada “operasi berdampak tinggi” di daerah-daerah yang paling rawan kejahatan dan dikuasai geng-geng tersebut.
Analisis data menunjukkan bahwa selama kondisi darurat keamanan berlangsung, terjadi penurunan signifikan kejahatan. Angka pembunuhan menurun sebanyak 50 persen dan kejahatan pemerasan berkurang 33 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini menunjukkan efektivitas tindakan pemerintah meski tantangan masih besar.
Kondisi darurat sebelumnya diberlakukan sebagai respons terhadap serangkaian pembunuhan terkoordinasi oleh geng Barrio 18. Serangan ini merupakan reaksi atas upaya pengambilalihan tiga penjara yang dikuasai oleh geng tersebut. Para anggota geng sempat menyandera tahanan untuk menuntut perbaikan kondisi dan pemindahan ke penjara dengan keamanan lebih rendah.
Presiden Arevalo menuduh adanya konspirasi antara para kriminal dan politisi yang berupaya mendestabilisasi pemerintahannya. Tuduhan tersebut muncul di tengah upaya reformasi yang sedang dijalankan untuk memberantas korupsi di sistem peradilan Guatemala.
Rencana penegakan hukum yang tegas ini sekaligus memperlihatkan tekad pemerintah pusat dalam memulihkan keamanan dan ketertiban publik di ibu kota. Dengan upaya terkoordinasi antara militer dan kepolisian, pemerintah berharap dapat menekan kekuatan geng dan mengakhiri siklus kekerasan yang telah lama mengganggu masyarakat.
