Serangan drone menargetkan konvoi bantuan di wilayah Kordofan, Sudan, hingga menewaskan tiga orang dan melukai empat pekerja kemanusiaan. Insiden ini terjadi saat konvoi membawa pasokan makanan dan bantuan ke kota Kadugli dan kota Dilling, pusat dari konflik sengit antara tentara Sudan dan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF).
Kelompok Sudan Doctors Network melaporkan bahwa serangan drone terjadi di kawasan Kartala. Mereka menyatakan bahwa drone yang menyerang diduga milik RSF, meski belum diketahui organisasi bantuan mana yang mengoperasikan konvoi tersebut. Peristiwa ini menambah panjang daftar serangan terhadap misi kemanusiaan di daerah yang sedang mengalami perang saudara.
Konflik bersenjata antara RSF dan militer Sudan mulai meluas sejak April, menyebabkan korban tewas lebih dari 40.000 jiwa dan 12 juta jiwa mengungsi, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Angka sebenarnya diduga jauh lebih tinggi karena medan perang yang sulit dijangkau membatasi akses bantuan dan pelaporan.
Kordofan kini menjadi pusat pertempuran yang makin intens dengan eskalasi serangan drone. Meski tentara mengklaim telah merebut kembali kontrol wilayah Kadugli dan Dilling, serangan udara melalui drone terus menghambat operasi bantuan serta menimbulkan dampak besar bagi warga sipil. Pada Februari, tercatat 77 orang meninggal akibat serangan drone di wilayah tersebut.
Baru-baru ini, sebuah konvoi bantuan PBB berhasil mengirimkan bantuan bagi lebih dari 130.000 orang di Dilling dan Kadugli, menjadi pengiriman utama pertama dalam tiga bulan terakhir. Namun, kekhawatiran terkait peningkatan kekerasan di lapangan tetap tinggi di kalangan pekerja bantuan kemanusiaan.
Serangan terhadap konvoi bantuan pada hari Kamis ini merupakan insiden kedua dalam kurang dari sebulan. Sebelumnya, konvoi bantuan Program Pangan Dunia juga diserang di wilayah North Kordofan, menandakan pola terus berlanjutnya serangan terhadap bantuan yang seharusnya netral dan melindungi korban perang.
Laporan investigasi PBB menunjukkan adanya bukti kekejaman yang dilakukan RSF di el-Fasher, ibu kota North Darfur, dengan indikasi kuat tindakan yang memenuhi unsur genosida. Setelah laporan itu dirilis, Amerika Serikat memberlakukan sanksi terhadap tiga komandan RSF dan mendesak gencatan senjata segera untuk menghentikan kekerasan.
Berikut beberapa fakta penting terkait situasi di Sudan:
1. Konflik antara RSF dan militer Sudan sudah menyebabkan 40.000 kematian dan 12 juta pengungsian.
2. Serangan drone makin sering terjadi di wilayah Kordofan, mempersulit distribusi bantuan.
3. Bantuan kemanusiaan PBB berhasil sampai ke lebih dari 130.000 orang dalam pengiriman terbaru.
4. Insiden serangan terhadap konvoi bantuan terjadi berulang kali, termasuk oleh RSF yang menjadi pihak terdakwa atas tuduhan genosida.
5. Pemerintah AS menjatuhkan sanksi kepada pemimpin RSF dan mendesak gencatan senjata.
Ketegangan dan konflik di Sudan tetap berlanjut dengan dampak luas bagi rakyat sipil yang sangat membutuhkan bantuan. Serangan terhadap misi kemanusiaan memperburuk krisis kemanusiaan dan menghambat proses pemulihan di wilayah yang terdampak perang. Pihak internasional terus memantau situasi dan menyerukan penghentian kekerasan demi melindungi nyawa warga yang rentan di tengah konflik.







