Hungaria Ancang-ancang Blokir Pinjaman EU Senilai 90 Miliar Euro Untuk Ukraina Jika Minyak Rusia Tak Kembali Mengalir

Hungaria mengambil sikap tegas dengan mengumumkan akan memblokir pinjaman besar dari Uni Eropa senilai 90 miliar euro untuk Ukraina. Kebijakan ini akan berlaku sampai pasokan minyak Rusia melalui pipa Druzhba kembali berjalan normal.

Pasokan minyak Rusia ke Hungaria dan Slovakia terhenti sejak akhir Januari, setelah pipa Druzhba mengalami kerusakan akibat apa yang disebut oleh pejabat Ukraina sebagai serangan drone Rusia. Pipa ini adalah jalur utama pengaliran minyak mentah Rusia yang melintasi wilayah Ukraina menuju Eropa Tengah.

Hungaria dan Slovakia, yang mendapatkan pengecualian sementara dari kebijakan UE yang melarang impor minyak Rusia, menuduh Ukraina dengan tanpa bukti sengaja menahan pasokan minyak tersebut. Akibatnya, kedua negara ini menghentikan pengiriman bahan bakar diesel ke Ukraina sejak pekan ini.

Menteri Luar Negeri Hungaria, Péter Szijjártó, dalam sebuah video yang diunggah di media sosial, menyatakan bahwa Ukraina mencoba memaksa negara tersebut melalui “pemerasan” dengan menunda kelanjutan pasokan minyak. Szijjártó menegaskan bahwa pemerintahannya akan menghambat pinjaman lunak dari UE yang sudah disetujui untuk mendukung kebutuhan militer dan ekonomi Kyiv selama dua tahun ke depan.

Dia menambahkan, “Kami tidak akan menyerah pada pemerasan ini. Kami tidak mendukung perang Ukraina, dan kami tidak akan membayarnya.” Pernyataan ini sekaligus menegaskan sikap Hungaria yang masih mempertahankan hubungan energi dengan Rusia, berbeda dengan banyak negara Eropa lainnya.

Keputusan Hungaria memblokir dana penting itu terjadi hanya dua hari setelah negaranya menghentikan pengiriman diesel untuk Ukraina. Keputusan ini juga menjelang peringatan empat tahun invasi Rusia ke Ukraina yang dimulai pada Februari.

Sebagian besar negara di Eropa telah mengurangi secara signifikan atau bahkan menghentikan total impor energi dari Rusia sejak perang dimulai. Namun, Hungaria dan Slovakia, yang merupakan anggota NATO dan UE, tetap melanjutkan serta bahkan meningkatkan pasokan minyak dan gas Rusia.

Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orbán, yang dikenal sebagai pendukung utama Kremlin di Eropa, berpendapat bahwa bahan bakar fosil Rusia sangat penting bagi ekonomi negara tersebut. Ia memperingatkan bahwa bergantung pada sumber energi lain akan menyebabkan kehancuran ekonomi secara langsung, meskipun pernyataan ini menuai keraguan dari sejumlah ahli.

Orbán sering menentang upaya UE mengenakan sanksi pada Rusia dan menolak langkah membatasi pendapatan energi Rusia yang mendanai operasi militer Moscow. Pemerintahnya juga berkali-kali mengancam akan menggunakan hak veto terhadap kebijakan UE yang bertujuan membantu Ukraina.

Menindaklanjuti situasi ini, Perdana Menteri Slovakia, Robert Fico, menyatakan akan menghentikan pasokan listrik darurat ke Ukraina jika pasokan minyak lewat Druzhba belum pulih pada hari Senin. Sementara itu, staf utama Orbán, Gergely Gulyás, mengindikasikan bahwa Hungaria pun tengah mempertimbangkan memutus pasokan listrik ke Ukraina.

Tidak semua negara anggota UE 27 menyetujui paket pinjaman 90 miliar euro untuk Ukraina. Hungaria, Slovakia, dan Republik Ceko menolak rencana tersebut. Namun, setelah negosiasi, mereka sepakat untuk tidak memblokir pinjaman itu asalkan diberikan jaminan perlindungan terhadap dampak finansial yang dapat mereka hadapi.

Situasi ini memperlihatkan ketegangan yang terus berlanjut di dalam Uni Eropa terkait penanganan krisis Ukraina dan hubungan energi dengan Rusia. Langkah Hungaria diprediksi dapat mempengaruhi solidaritas Eropa dalam mendukung Ukraina menghadapi konflik yang masih berkepanjangan.

Exit mobile version