Protes kembali meletus di Tehran dengan serentetan demonstrasi yang berlangsung di beberapa universitas utama. Aksi ini terjadi berbarengan dengan dorongan diplomatik dan tekanan militer dari Amerika Serikat terhadap pemerintahan Iran.
Utusan khusus Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, menyatakan bahwa Trump merasa “penasaran” mengapa Iran belum menyerah dalam negosiasi pembatasan program nuklirnya. Witkoff mengungkapkan lewat wawancara di Fox News bahwa di balik tekanan besar dari kekuatan militer AS di kawasan, Iran belum menyatakan kesediaan untuk menyerah atau membatasi pengembangan senjata nuklirnya.
Protes Mahasiswa di Universitas Tehran
Beberapa universitas di Tehran, seperti Amirkabir, Sharif University of Technology, dan Science and Industry University, menjadi pusat demonstrasi yang bertolak belakang. Video yang terverifikasi menunjukkan bentrokan antara kelompok pro-pemerintah dengan demonstran anti-rezim, di mana sebagian mahasiswa bahkan meneriakkan dukungan untuk kembalinya monarki di Iran.
Menurut laporan Fars News Agency, beberapa peserta aksi membawa slogan-slogan yang berlawanan dengan pemerintahan saat ini, diikuti oleh imbauan dari sejumlah akademisi agar demonstrasi dilakukan dengan tetap menjaga ketertiban dan tidak berujung pada kekerasan. Hossein Goldansaz, seorang profesor di Universitas Tehran, mengingatkan pentingnya menghormati “garis merah” dalam protes yang berlangsung.
Konteks Kerusuhan dan Tuntutan Mahasiswa
Aksi protes ini bertepatan dengan peringatan 40 hari sejak gelombang demonstrasi sebelumnya yang berakhir dengan bentrokan berdarah dan puluhan korban jiwa. Mahasiswa yang turun ke jalan juga mengangkat isu duka cita bagi teman-teman mereka yang meninggal dalam kerusuhan tersebut. Beberapa rekaman memperlihatkan penolakan keras terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta dukungan kepada Reza Pahlavi, keturunan terakhir dinasti monarki Iran.
Ketegangan dan Peningkatan Tekanan Militer AS
Sementara itu, Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah dengan pengiriman USS Gerald R. Ford dan kelompok serang kapal induk ke kawasan itu. Langkah ini merupakan upaya untuk menekan Iran di tengah ketidakpastian apakah akan dilancarkan serangan militer. Presiden Trump bahkan menyebut angka korban demonstrasi yang sangat tinggi, yakni sekitar 32.000 orang, meskipun angka ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Upaya Diplomasi dan Negosiasi Nuklir
Di sisi diplomasi, Iran dan AS masih berada pada posisi yang berbeda terkait pembicaraan tentang pengurangan sanksi sebagai imbalan pembatasan program nuklir Iran. Dua seri pembicaraan tidak langsung telah dilakukan antara Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dengan sesi negosiasi lanjutan yang direncanakan dalam waktu dekat.
Araghchi menyatakan optimisme terhadap kemungkinan tercapainya solusi diplomatik yang dapat mengakomodasi kepentingan kedua pihak. Iran juga telah menawarkan sejumlah skenario kompromi, seperti mengekspor sebagian uranium yang diperkaya tinggi (HEU), menurunkan kadar pengayaan uranium, serta pembentukan konsorsium pengayaan regional.
Poin Penting dalam Negosiasi Nuklir Iran dan AS
- Iran menegaskan haknya untuk melakukan pengayaan uranium secara damai.
- AS meminta Iran untuk mengurangi stok uranium yang diperkaya tinggi.
- Proposal kompromi meliputi ekspor HEU, pengenceran uranium, dan konsorsium regional.
- Negosiasi berlangsung terus dengan peluang tercapainya kesepakatan interim.
Situasi saat ini menunjukkan dinamika kompleks berupa tekanan politik, militer, dan sosial yang mempengaruhi hubungan Iran dan Amerika Serikat. Demonstrasi di dalam negeri Iran ikut menjadi cermin ketidakpuasan terhadap rezim yang sedang diuji oleh tekanan eksternal dan ambisi diplomatik kedua negara.







