Mahkamah Agung Amerika Serikat menolak untuk menghidupkan kembali gugatan yang diajukan oleh National Rifle Association (NRA) terhadap mantan pejabat New York, Maria Vullo. Gugatan ini menuduh Vullo melakukan tekanan terhadap bank dan perusahaan asuransi agar tidak berbisnis dengan kelompok pendukung hak kepemilikan senjata tersebut.
Pada awal tahun 2024, Mahkamah Agung sempat mengembalikan gugatan NRA dengan alasan pelanggaran hak kebebasan berbicara yang dijamin oleh Amandemen Pertama Konstitusi AS. Namun, setelah pengadilan tingkat bawah kembali menolak gugatan itu dengan alasan kekebalan hukum, Mahkamah Agung akhirnya memutuskan tidak melanjutkan kasus ini untuk kedua kalinya.
Latar Belakang Gugatan NRA
Gugatan yang diajukan sejak 2018 tersebut menuduh Maria Vullo telah melakukan tindakan pembalasan ilegal terhadap NRA lantaran advokasi kelompok itu pada hak kepemilikan senjata. Tuduhan ini muncul setelah terjadi penembakan massal di sekolah Parkland, Florida, yang menewaskan 17 orang. NRA menilai tindakan Vullo membentuk "rezim sensor implisit" terhadap organisasi tersebut.
Mahkamah Agung pada Mei 2024 sebelumnya menyatakan bahwa tindakan pemerintah tidak boleh digunakan untuk secara selektif menghukum atau menekan kebebasan berbicara. Putusan tersebut menegaskan bahwa pejabat pemerintah tidak boleh menggunakan kekuasaan mereka, langsung atau tidak langsung melalui pihak ketiga, untuk merugikan hak kebebasan berbicara.
Penolakan Karena Kekebalan Hukum Pejabat
Meski Mahkamah Agung mendukung penghidupan kembali gugatan secara prinsip, mereka tidak membahas apakah Vullo memiliki kekebalan hukum (qualified immunity). Kekebalan ini melindungi pejabat dari tuntutan hukum dalam kondisi tertentu bila hukum terkait tindakan mereka belum jelas atau tegas.
Pengadilan Banding Sirkuit ke-2 AS di New York kemudian memutuskan bahwa Vullo berhak atas kekebalan hukum tersebut. Pengadilan menilai pada saat tindakan dilakukan, hukum yang berlaku masih belum jelas. Keputusan ini menyebabkan NRA kembali mengajukan banding ke Mahkamah Agung.
Dampak dan Kontroversi
NRA adalah kelompok lobi kuat yang berafiliasi dengan partai Republik dan dikenal menentang pengendalian senjata yang didukung oleh sebagian besar Demokrat. Gugatan ini dianggap penting karena menyoroti upaya pemerintah New York yang disebut NRA sebagai "blacklisting" atau pemblokiran akses layanan keuangan untuk membatasi aktivitas advokasi kelompok tersebut.
Maria Vullo, yang diangkat oleh gubernur dari partai Demokrat, meminta bank dan perusahaan asuransi untuk mempertimbangkan "risiko reputasi" jika berbisnis dengan kelompok perburu hak senjata setelah tragedi Parkland. Kantornya juga menjatuhkan denda lebih dari $13 juta kepada Lloyd’s of London dan beberapa perusahaan asuransi lain terkait produk asuransi "Carry Guard" yang disetujui NRA.
Produk ini memberikan perlindungan tanggung jawab hukum bagi pemegang polis yang menyebabkan cedera akibat penggunaan senjata api, bahkan dalam kasus penggunaan senjata secara salah. Akibat tekanan ini, perusahaan asuransi tersebut akhirnya setuju menghentikan penjualan produk yang dianggap melanggar hukum asuransi New York.
Alasan Pengadilan Memberikan Kekebalan
Dalam putusan pengadilan banding, dinyatakan bahwa pejabat seperti Vullo dalam posisi tersebut tidak dapat dengan pasti mengetahui bahwa tindakan mereka melampaui batas "persuasi yang sah" dan masuk ke dalam wilayah "pemaksaan dan pembalasan yang tidak sah." Oleh sebab itu, kekebalan hukum diberikan sebagai perlindungan atas ketidakpastian hukum pada saat itu.
Sikap Mahkamah Agung untuk tidak melanjutkan gugatan ini menjadi indikasi penting mengenai batasan perlindungan hukum bagi pejabat pemerintah dalam kasus-kasus yang berkaitan dengan kebebasan berbicara dan regulasi bisnis terkait kelompok advokasi yang kontroversial seperti NRA.
