Pemerintah Chad resmi menutup perbatasan timurnya dengan Sudan setelah serangkaian insiden tembak-menembak yang merenggut nyawa beberapa tentara dan warga sipil Chad. Penutupan ini dilakukan sebagai respons atas pelanggaran berulang oleh pasukan yang terlibat dalam konflik Sudan yang merembet ke wilayah Chad.
Menteri Komunikasi Chad, Mahamat Gassim Cherif, menyatakan keputusan itu diambil untuk mencegah meluasnya konflik di wilayah Chad dan menjaga keselamatan warga serta pengungsi yang berada di sana. Penutupan perbatasan ini juga bertujuan menjaga stabilitas dan integritas wilayah Chad dari dampak perang sipil di negara tetangga.
Konflik bersenjata antara Rapid Support Forces (RSF) dan pasukan pemerintah Sudan mengakibatkan bentrokan di kota perbatasan Tina pada akhir pekan lalu. Dalam insiden tersebut, lima tentara Chad dan tiga warga sipil tewas, sementara 12 lainnya mengalami luka-luka akibat bentrokan yang terjadi. Seorang pejabat Chad mengkonfirmasi bahwa kekerasan ini merupakan bagian dari bentrokan yang semakin sering melibatkan wilayah Chad.
Perang sipil Sudan yang pecah sejak April tahun lalu antara militer pimpinan Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dan RSF yang dipimpin Mohamed Hamdan Dagalo atau Hemedti telah menimbulkan krisis besar. Konflik berkepanjangan ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa tapi juga menyebabkan kerusakan properti serta mendorong jutaan warga mengungsi.
Dalam keterangan resmi, pemerintah Chad menyatakan penutupan perbatasan akan berlaku hingga waktu yang belum ditentukan. Namun, mereka akan mempertimbangkan pengecualian terkait keperluan kemanusiaan, dengan syarat adanya izin khusus dari pemerintah. Kebijakan ini dinilai sebagai upaya Chad untuk membatasi dampak konflik Sudan masuk lebih jauh ke wilayahnya.
Kholood Khair, analis politik dan pendiri Confluence Advisory, mengingatkan bahwa penutupan perbatasan ini berpotensi menghambat masuknya bantuan kemanusiaan ke Sudan yang saat ini mengalami lonjakan tingkat kelaparan. Ia menilai meskipun Chad berharap pembatasan tersebut dapat mengurangi kekerasan yang merembet, kenyataannya akan semakin menyulitkan pengungsi untuk mencari perlindungan di wilayah Chad.
Sejauh ini, Chad telah menampung hampir satu juta pengungsi dari Sudan yang melarikan diri akibat perang saudara. Situasi yang memburuk di perbatasan membuat pemerintah Chad menambah pasukan keamanan guna memperkuat penjagaan dan melindungi warga sipil di daerah itu. Dua sumber mengonfirmasi kepada Reuters bahwa pasukan tambahan tengah dikirim ke wilayah perbatasan.
Sudan dan RSF belum memberikan komentar resmi terkait insiden terbaru ini. Namun, catatan pengamanan Chad menunjukkan bahwa ancaman dari konflik bersenjata di Sudan juga pernah menimbulkan korban tentara Chad akibat serangan drone tahun lalu. Meskipun ada laporan yang menyebut Chad menjadi jalur transit suplai senjata dan drone untuk RSF, pemerintah Chad membantah keterlibatan itu.
Perang sipil ini telah menewaskan puluhan ribu jiwa dan memaksa sekitar 11 juta orang meninggalkan rumah mereka. PBB menyebut krisis yang berlangsung sebagai salah satu bencana kemanusiaan terburuk di dunia saat ini, menghadirkan tantangan besar bagi negara-negara tetangga, termasuk Chad, dalam mengelola dampak konflik dan pengungsi yang terus bertambah.







