Pembunuhan Nemesio “El Mencho” Oseguera, pemimpin Kartel Jalisco Nueva Generacion (CJNG), menimbulkan gelombang kekerasan hebat di beberapa negara bagian Meksiko. Serangan terkoordinasi dengan pembakaran toko dan blokade jalan memparalisis kota-kota, menunjukkan dampak langsung kematian tokoh kunci tersebut.
CJNG merupakan salah satu organisasi kriminal paling kuat di Meksiko. Didirikan sekitar 2009 dari sisa-sisa Kartel Milenio, kelompok ini dikenal karena kekejaman yang melampaui grup kriminal sebelumnya seperti Los Zetas.
Los Zetas berasal dari mantan tentara elit yang menggunakan taktik militer dalam dunia kriminal. Mereka terkenal dengan kekerasan ekstrem dan aktivitas seperti penculikan, pemerasan, serta pencurian bahan bakar.
Menurut Departemen Luar Negeri AS, CJNG menguasai distribusi besar kokain, heroin, dan metamfetamin, serta kini menjadi pemain utama dalam perdagangan fentanyl yang mematikan di AS. Selain narkoba, mereka juga mendapat keuntungan dari pemerasan, penyelundupan migran, dan pencurian minyak serta mineral.
Kartel ini memiliki jaringan jalur penyelundupan internasional yang melintasi Amerika Latin, AS, hingga Asia. Mereka juga kerap melancarkan serangan terhadap pasukan keamanan dan pejabat publik, termasuk percobaan pembunuhan terhadap mantan sekretaris keamanan Meksiko pada 2020.
Strategi CJNG menggabungkan kekerasan brutal dengan pendekatan strategis. Menurut analis Chris Dalby, kekerasan itu tidak acak melainkan bertujuan untuk mendominasi pesaing dan menyebarkan ketakutan secara cepat. El Mencho melatih anak buahnya dengan gaya penaklukan ala Genghis Khan yang menghancurkan lawan sebagai peringatan keras.
Dengan metode itu, CJNG tumbuh pesat dan mengendalikan wilayah yang luas, walau pengaruhnya lebih berbasis mobilitas dan intimidasi daripada penguasaan wilayah yang stabil.
Kematian El Mencho dipandang sebagai pukulan besar bagi CJNG. Namun, para ahli memperingatkan bahwa menyingkirkan seorang pemimpin tanpa menghancurkan struktur dan sumber daya organisasi bisa berbahaya. Sejarah telah menunjukkan bahwa metode ini malah memicu fragmentasi dan gelombang kekerasan baru.
Strategi pemerintah Meksiko sempat bergeser sejak 2018 dari pendekatan militer keras ke program sosial dengan slogan “pelukan, bukan peluru”. Namun tekanan AS agar tindakan tegas melawan kartel membuat pemerintah kembali melakukan operasi militer dengan dukungan intelijen AS.
Meksiko kini menghadapi kemungkinan gelombang kekerasan baru yang berlangsung berbulan hingga bertahun-tahun, karena panggung kriminal sedang mengalami rekonfigurasi. Perjalanan kartel akan tetap dinamis dengan perebutan kekuasaan di internal.
Ahli meyakini CJNG kemungkinan besar akan bertahan. Menurut Miguel Alfonso Meza, pemerintah telah memicu siklus balas dendam dan perebutan kekuasaan dengan membunuh pemimpin saat organisasi masih kuat. Rival pun akan mencoba menguji batas kekuatan CJNG.
Seperti mengganti CEO dalam sebuah perusahaan, kepergian El Mencho tidak menghentikan bisnis narkoba yang terus berjalan. Akan ada banyak kandidat pengganti yang berusaha mengambil alih posisi, sehingga persaingan internal bisa menjadi sumber konflik baru.
Meksiko kini harus mengantisipasi tantangan rumit terkait pengaruh CJNG yang masih besar dan potensi perubahan pola kekerasan yang muncul. Pemerintah dan lembaga keamanan perlu merumuskan strategi komprehensif yang tidak hanya berfokus pada pemimpin, tapi juga memperlemah jaringan dan sumber daya organisasi secara menyeluruh.
Langkah ke depan bagi Meksiko termasuk memperkuat kerja sama internasional, memperdalam investigasi terhadap pendanaan kartel, dan melanjutkan program pencegahan kekerasan berbasis masyarakat. Tanpa upaya berkelanjutan dan terpadu, CJNG dapat kembali bangkit atau digantikan oleh kelompok kriminal lain yang lebih brutal.
