Sebelas pria asal Afrika Selatan yang diduga dipikat untuk berperang bagi pasukan Rusia di Ukraina telah kembali ke negaranya. Mereka sebelumnya terjebak di wilayah Donbas, pusat konflik sengit di Ukraina, setelah dijebak untuk bergabung sebagai tentara bayaran.
Kelompok ini terdiri dari 17 pria yang mengajukan bantuan ke Pretoria pada November lalu. Empat dari mereka sudah tiba di Johannesburg minggu lalu, sementara dua lainnya masih berada di Rusia, salah satunya dirawat di rumah sakit.
Para pria tersebut tampak keluar dari bandara Durban, KwaZulu-Natal, bersama koper dan ditemani polisi menuju area penahanan. Keluarga yang menunggu di bandara tampak tersedu-sedu saat menyambut kedatangan mereka.
Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, menyatakan bahwa penyelidikan atas bagaimana para pemuda ini direkrut dalam aktivitas tentara bayaran masih berlangsung. Penyelidikan ini penting untuk memahami proses perekrutan dan mencegah kejadian serupa di masa depan.
Perang yang dipicu oleh invasi Rusia ke Ukraina sejak tahun lalu telah menarik tentara bayaran dari berbagai negara. Ukraina melaporkan bahwa lebih dari 1.780 warga dari 36 negara Afrika telah ditemukan berada di barisan pasukan Rusia, beberapa di antaranya berhasil ditangkap.
Media Afrika Selatan mengungkapkan bahwa pria-pria tersebut diduga dikirim ke Rusia untuk pelatihan sebagai penjaga keamanan oleh partai oposisi MK. Partai ini dipimpin oleh mantan presiden Jacob Zuma, yang menjabat dari 2009 hingga 2018.
Terkait kontroversi ini, salah satu putri Zuma, Duduzile Zuma-Sambudla, mengundurkan diri dari parlemen setelah muncul klaim keterlibatannya dalam merekrut para pria tersebut untuk bergabung dengan pasukan Rusia.
Kasus tersebut menjadi sorotan karena melibatkan isu perekrutan tentara bayaran yang memasuki konflik internasional. Pemerintah Afrika Selatan terus memantau perkembangan dan mengambil langkah hukum sesuai kebutuhan.





